Tiba-tiba saja saya ingin mengenangkannya, sosok tubuh kurus ceking dengan suara lantang dan kadang melengking. Dia sudah lama meninggal sekitar 9 Januari 1988 tetapi kenangan lagu dan sosoknya tetap membekas.
Saya mengenalnya sewaktu masih SMP atau SMA sekitar tahun 70-an. Saat itu kakak saya sering memutar lagu dari kasetnya. Saya ingat yang ada syairnya I Gede Mataram. Gombloh berdendang dan menceritakan seorang polisi jujur yang bernama I Gede Mataram. Dia berbakti pada sapta marga sebagai sosok prajurit utama. Setelah itu saya mulai menyenangi lagu-lagu lainnya Seloroh Pendek (Selopen), sebuah lagu unik dan agak konyol dengan lirik yang sering dikutip karena populernya. ...bila cinta melekat/tahi kucing rasa coklat. Hampir tiap minggu pagi kaset itu diputas keras-keras. Tentunya lagunya menjadi semakin akrab di telinga.
Sewaktu SMA saya sempat diajak menonton konsernya di Gedung Kridosono, Yogyakarta. Saat itu Gombloh sudah mulai dikenal tetapi kebanyakan penggemarnya masih anak muda. Penonton yang juga kebanyakan anak muda penuh di Stadion. Tubuh kurus tinggi melengkung dengan sepatu kets putih dan rambut gondrong. Bajunya putih kembang-kembang dikenakan sekenanya saja. Sebagian giginya ompong, mata cekung dengan sorot tajam dan hidung sangat mancung. Mungkin karena kurusnya. Kalau berdiri terkesan agak membungkuk sambil menenteng gitar. Dia didampingi dua penyanyi latar, Ratih dan Sulih. Kalau sudah melengking suaranya dan menyanyikan sebuah lagu, suaranya wow… Mulailah lagu Gugur-gugur Bunga, …Berhembus angin semilir, menyapaku meraba lalu. Rumput meliar tumbuh di sekitar nisanmu, menaungi tubuhmu. Bunga-bunga melati, berkembang warna putih, seputih warna hatimu… Saya terpana. Penonton terpada dan bertepuk tangan. Dipadu dengan suara harmonica Wisnu Padma. Wah! Meluncurlah lagu-lagu lain yang sudah tak asing di telingaku. Lagu Berita Cuaca dengan liriknya yang khas. Lestari alamku/lestari desaku/dimana Tuhanku/menitipkan aku/nyanyi bocah-bocah di kala purnama/nyanyikan lagu… Kuingin bumiku hijau kembali/
Lagu Hong Wilaheng dari lirik Pangkur 1 & 12, Serat Wedhatama-KGPAA Mangkunegoro IV. Mingkar-mingkuring angkoro/ Akarono karnan mardi siwi/ Sinawung resmining kidung/ Sinubo sinukarto/ Aduh Gusti/ pakertining ngelmu/ ingkang tumrap ning ngalam dunyo/ Agomo ageming aji/ Sopo entuk wahyuning Allah/ Gyo dumilah mangulah ngelmu bangkit/ Bangkit mikat reh mangukut/ Kukutaning jiwanggo./ Yen mangkono keno sinebut wong sepuh/ liring sepuh sepi howo, awas roroning atunggil/ Hong wilaheng sekareng bhawono langgeng... Sekar mayang.../ Hong wilaheng sekareng bhawono langgeng... Sekar kajang.../ Hong wilaheng sekareng bhawono
Selopen, Selamat Pagi Kotaku, Kebyar-kebyar dll. Sepenggal lirik Kebyar-Kebyar. ...biarpun bumi bergoncang/ kau tetap Indonesiaku/ andaikan matahari terbit dari barat/ kaupun tetap Indonesiaku/ tak sebilah pedang yang tajam/ dapat palingkan daku darimu
Lagu Denok-denok debleng yang lucu membuatku tersenyum. Judul lagunya local banget. Bagi yang tak seberapa paham bahasa Jawa akan mengernyitkan dahinya, apa artinya.
Saya mulai berusaha mengenalnya baik melalui media cetak ataupun dari berbagai kaset. Gombloh lahir di Jombang, 14 Juli 1948 dengan nama asli Soedjarwoto Soemarsono sebagai anak ke-4 dari enam bersaudara dalam keluarga Slamet dan Tatoekah. Bapaknya seorang penjual ayam potong di pasar tradisional. Sebagai keluarga sederhana, Slamet sangat berharap agar anak-anaknya dapat bersekolah setinggi mungkin hingga memiliki kehidupan yang lebih baik. Gombloh memang pernah sebagai mahasiswa Arsitektur ITS tetapi tidak tamat. Kabarnya ada salah satu kakaknya yang lulusan Fak. Farmasi. Dia pernah mendirikan kelompok musik Lemons Trees tahun 1969 bersama Leo Cristy, sesama mahasiswa ITS. Keduanya juga berkibar sebagai penyanyi lagu-lagu balada. Gombloh dikenal dengan kehidupan malam dan nyentriknya. Kabarnya, honor sukses kasetnya yang pertama dibelikan BH dan dibagikan pada teman-temannya di kompleks WTS di Surabaya.
Selang berjalannya waktu, saya bisa menikmati lagu-lagunya yang lain dalam beberapa kasetnya yang tentu saja tak mudah mencarinya. Saya koleksi beberapa albumnya. Nadia dan Atmosphere (1978) dengan cover lukisan surealis. Mawar Desa (1978), Kebyar Kebyar (1979), Pesan Buat Negeriku (1980), Berita Cuaca (1982), Kami Anak Negeri Ini (1983). Berita cuaca covernya foto diri dengan mata cekungnya. Ada juga cover dengan gambar patung Gombloh. Ada lagu Kebayan-kebayan, Sasanti Antropologi, Mulyati-Mulyati, Dewa Ruci, Ujung Kulon-Baluran, Ranu Pane, Nyanyi anak seorang pencuri, 3600 detik dll. Liriknya unik, sederhana, merakyat dan melodinya enak. Banyak lagu mulai masuk kenanganku, Selamat Pagi Kotaku, Esokmu mungkin bukan esok dia, Do’a seorang pelacur, Balada Sumirah dll. Aku dilahirkan oleh seorang wanita yang bernama Sumirah... Lirik ini persis seperti yang kualami he..he..
Simak syair lagu Selamat Pagi Kotaku yang sarat kritik sosial. Aku dilahirkan di kota/ Di bangsal rumah sakit tua/ Rumahku sebaya umur kakekku/ Berdinidng batu separo bambu/ Dan aku coba mengerti/ Walau aku sering memaki/ Tingkah-tingkah kotaku yang panas/ Berbaur debu dan keringat di badanku/ Orang bilang kotaku kejam/ Tak beda usia tak beda warna/ Bagai tangan hitam cengkeram/ Tubuh-tubuh tergolek di sana/ Dulu aku tak peduli/ Walau aku sering kerutkan dahi/ Detak jantung berpadu dengan nafsu/ Sering terlihat nyata di depanku... Lagu bernada kritik sosial masih banyak. Simak lagu dengan judul unik, 3600 detik yang memang lirik dimulai pukul 02.00 dan berakhir pukul 03.00. Malam tunjuk pukul dua/emper toko kaki lima/...malam tunjuk pukul tiga.
Sampai akhirnya ada lagunya yang meledak yaitu Kugadaikan Cintaku. Dia menjadi sering tampil di TV dengan ditambah penari latar model, Titi Qadarsih. Penampilan Gombloh ditambah dengan topi dan kaca mata hitam dan rambut tetap dikuncir. Saya rasa lagu itu agak sedikit ngepop dibanding lagunya yang dulu. Setelah itu kasetnya banyak ditemukan di toko-toko kaset dan masuk dalam kumpulan lagu-lagu ngepop. Lagunya yang berjudul Kebyar-kebyar menjadi lagu yang bersifat nasionalistik dan sering dinyanyikan beberapa penyanyi tiap sekitar tanggal 17 Agustus dan rasanya sudah menjadi lagu abadi. Begitu juga dengan lagu Berita Cuaca, sudah menjadi lagu simbolisnya lingkungan hidup. Dia juga mengarang lagu untuk pemyanyi lain, Vicky Vendi dengan portur tegap dan berambut gondrong. Lagu cintanya Untukmu Kekasih sempat menjadi hits. Syairnya sebagian yang masih tersisa di kepala, walau engkau ingkari, janji yang kau ikrarkan tapi kutetap mencintai kamu…
Kabarnya dia sempat beristri dan mempunyai anak. Sampai terdengar kabar, Gombloh meninggal karena sakit. Melihat tubuhnya yang ceking dan gaya hidup senimannya yang tidak teratur, rasanya logis bila dia sudah menanam beberapa macam penyakit dalam tubuhnya. Sampai sekarang saya belum menemukan penyanyi lain yang seperti dia. Hidupnya sederhana, musiknya sederhana dan syair lagunya mengena. Kabarnya sering dia mengarang lagu secara spontan di studio.
Selang berjalannya waktu, saya juga mulai bekerja di tempat lain. Kaset yang dulu saya miliki tetap saya bawa sampai Bontang. Suatu saat saya ingin menyetel lagi kaset-kaset tersebut tetapi alamak, ternyata udara Bontang yang lembab ikut menyuburkan jamur-jamur yang menggerogoti pita kasetnya. Kaset tersebut perlu penanganan khusus untuk didengarkan lagi. Alhasil, saya perlu menunda dulu kerinduan mendengarkan kasetnya Gombloh, karena dalam bentuk MP3 juga belum saya jumpai terutama untuk album sebelum Kugadaikan Cintaku. Saya sudah nyari ke beberapa tempat tetapi belum dapat. (Bontang, 18 Desember 2005, Sunaryo Broto)
Wah...memang gombloh banyak kenangan....dan ternyata apa yang saya alami dengan kenangan ayah saya juga melibatkan lagu2 gombloh...salam kenal dari saya pak sunaryo, wah sudah dapat mp3 gombloh pastinya....soalnya saya baru dapat juga mp3nya di google..
BalasHapussalam hangat,
Arif Sumiarto
areef_sumantri@yahoo.com
Salam kenal juga. Ya saya nikmati Gombloh di pinggir hutan ini he..he.. Salam dari Bontang.
BalasHapusWah..Salam kenal Pak Sbroto....Kerja di Tambang Pak?
BalasHapusKerja di Pupuk Kaltim, Bontang. Mas Areef kerja dimana? Lagu apa yang paling disukai dari Gombloh? Dengar lagu Gombloh mulai kapan? Saya hanya ingin tahu pada generasi apa Mas Areef, karena generasi sekarang -generasi Peter Pan, Ungu- gak ada yang tahu lagu2 Gombloh kecuali Kebyar2 he..he..
BalasHapusWah, Saya masih Kuliah Pak, sambil kerja di konsultan pak. Lagu Gombloh tidak asing di telinga saya pak tapi yang saya suka judulnya Sumirah, Apa Kabar Kotaku, Hitam-putih, skala, Nyanyian anak seorang pencuri (kalo ga salah) dan diakhiri judul Okelah...hehe...Kebetulan Alm Ayah saya sering putar lagu itu waktu saya kecil, jadi lagunya sangat tidak asing bagi saya...Kebetulan saya Generasi "kaum Belia" saya lahiran 1986 pak...Kalau Pak Sbroto suka judul apa pak?
BalasHapussaya kok lupa judul lagu yang ada kata "kalau cinta melekat..tahi kucing rasa coklat" saya waktu masih SD sudah mengenal dan seneng banget sama lagu itu..
BalasHapusSalah satu lagu ciptaan Gombloh yg dinyanyikan Vicky Vendy yg berjudul "Sayang" juga menjadi hits setelah lagu "Untukmu Kekasih"..Ada yg punya lagu tersebut?
BalasHapus