Tampilkan postingan dengan label clubbuku33. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label clubbuku33. Tampilkan semua postingan

Senin, 07 Januari 2008

Menikmati yang Sedap-sedap di Sedap Malam

 

S

etelah melalui sekian guyonan dan diskusi via email, undangan, revisi dan molornya waktu maka pertemuan bertajuk yang sedap-sedap di Sedap Malam akhirnya terlaksana di rumah dinas Manik Priandani, Jl. Sedap Malam No 14 PC VI PKT pada tanggal 1 Januari 2007 jam 11-an sampai selesai. Ini adalah pertemuan kedua CB (Club Buku) 33 setelah mencari sekian waktu luang. Pertemuan pertama pada saat deklarasi CB-33 pada tanggal 3-3-2007 di Jl. Kecubung 33 PC VI. Hadir dalam pertemuan kedua tersebut Ezrinal Azis beserta anaknya, Mudjib Utomo dengan anaknya, Mujab, Sunaryo Broto dan anaknya, Abdul Hakim, Kusnul Nurmanto, Wijaya Laksana, Edy Pratolo, dan Novianto. Ada beberapa teman yang karena satu dan dua hal tidak bisa datang tetapi ikut merespon diskusi buku via email.

 

Acara utama adalah santai-santai silaturahim setelah lama berdiskusi via email. Ada sembilan bulan lebih dan sudah puluhan buku diresensi dan dibahas via email dengan segala pernik candanya. Tuan rumah, Manik menjadi pembicara utama membahas Trilogi Buku Laskar Pelangi karangan Andrea Hirata. Buku yang sudah belasan kali terbit sejak 2005 dan selama 3 pekan menjadi best seller tetap menarik untuk dibahas. Pembahasan diselingi diskusi dengan ramai karena hampir semua peserta antusias berkomentar terutama Mudjib Utomo sangat rinci informasi tentang buku dan di balik buku tersebut.

 

Manik mengaku sangat menikmati 3 buku tersebut hanya dalam 3 minggu tetapi rasanya antara buku satu dan lainnya ada yang terpisah cerita. Buku Laskar Pelangi bercerita tentang keceriaan 10 anak SD Muhammadiyah di Belitong yang dijuluki gurunya Laskar Pelangi dan perjuangan tulus seorang guru bernama Bu Muslimah. Dengan segala keterbatasannya dan daya juangnya mengatasi kendala yang ada dengan tokoh utama Ikal atau Aqil Barraq Badruddin atau Wadudh atau Andrea Hirata. Buku kedua, Sang Pemimpi bercerita tentang mimpinya semasa SMA tanpa keterkaitan dengan 9 tokoh pada Laskar Pelangi. Buku ketiga Edensor merupakan rangkaian mosaik Andrea Hirata yang bercerita tentang pengalaman jalan-jalan ala backpacker sewaktu study di Perancis ke penjuru negara Eropa dan ”kebetulan” bertemu dengan sebuah desa di Inggris dengan nama Edensor. Resensi lengkapnya ada pada http://sbroto.multiply.com. Tulisan berita singkatnya juga ada di http:// hakimborneo.blogspot.com

 

 

Ada opini lain dari teman-teman yang respek via email. Komentar-komentar ini sayang sekali bila tidak didokumentasikan. Lola Karmila, staf SDM dan juga pecinta buku yang sudah membacanya berkomentar. Menurutnya di buku pertama "Laskar Pelangi", pengarangnya masih wagu, karena dia bercerita tentang anak kecil dengan bahasa orang dewasa, jadinya enggak pas. Coba kalau dia membicarakan kepintaran seseorang dengan bahasa yang sesuai dengan usianya pada saat itu,  akan  menambah nilai plus untuk buku dengan cerita yang menarik dan menyentuh hati. Seperti buku Totto-Chan (Si Gadis Kecil di Tepi Jendela) karangan Tetsuko Kuroyanagi. ”Coba bandingkan gaya bahasanya, pengarangnya bertutur dengan gaya sesuai usia pada saat itu, menarik kan,” tulisnya. Di buku yang ketiga baru terasa pas, karena dia bercerita sesuai dengan usianya pada saat itu.

 

Kiriman Tedy Nawardin yang juga Kepala Biro Humas menarik sekali karena tugasnya banyak berkecipung pada bidang CSR (Corporate Social Responsible). Mari kita simak. ”Suatu saat saya membeli Tetralogi Laskar Pelangi (3 buku langsung). Maksudnya untuk anak saya. Di pesawat saya buka. Ada komentar teman saya ditulis di buku (Santi, adik kelas S1 dan sama-sama di S2 Komunikasi UI). Lalu saya tertarik untuk membacanya. Tidak terasa saya hanyut dalam cerita. Saya seperti berada dalam lingkungan Laskar Pelangi.  Terlepas dari beberapa kekurangan dalam cara bertutur, tetapi penulis mampu mengaduk-aduk emosi pembaca. Keceriaan begitu mudah dialirkan. Kesedihan pun tidak tabu disampaikan. Cinta pun digulirkan meski terkesan begitu polos. Setiap buku itu punya makna bagi saya. Yang paling tersentuh, saya baca tentang karnaval 17-an. Bukan karena ekspresi kesenian yg ditampilkan, tetapi tentang semangat. Bayangkan, anak-anak "kampung" bisa mengalahkan anak-anak "mapan" sekolah PN Timah. Lalu saya membayangkan, suatu saat saya harus bisa membangun semangat anak-anak Guntung untuk mengalahkan anak-anak YPK (Yayasan Pupuk Kaltim). Saya pikir itu bisa dan harus bisa. Tinggal bagaimana keseriusan perusahaan dalam pemberdayaan masyarakat di buffer zone. Hal kedua yg menggelikan, ada pada buku ketiga ketika bertemu dengan primadona kelas bernama Katya. Prinsip Katya tentang cowok dengan pendekatan seperti Channel TV begitu berbeda dengan Ikal yg cinta mati dengan A Ling.”

 

Ada juga kiriman sinopsis dari anaknya Pak Agung Yogisworo, karyawan SPI PKT untuk Buku Edensor. Buku ini adalah buku ketiga dari tetralogi Laskar Pelangi. Buku ini menceritakan kisah sang penulis saat berhasil mendapatkan beasiswa untuk sekolah di Universite de Sorbonne, di Paris. Di sana, banyak kejadian-kejadian yang bisa dibilang sungguh aneh dan tidak masuk akal. Ada kejadian dimana si Ikal dan Arai bertahan hidup di sebuah terowongan pada suhu -9° karena tidak berhasil mendapat tempat tinggal. Dan ada juga dimana saat si Ikal (Andrea Hirata) bertemu dengan orang yang dia ambil namanya dan dia pakai sebagai namanya, Andrea Galliani. Banyak kejadian-kejadian yang mengagumkan yang dapat kita temukan di buku ini. Seperti saat Ikal dan Arai tersesat di negeri Balkan, mereka bertemu dengan orang asli Purbalingga yang sejak 1965 sudah di Balkan yang bernama Toha. Ada juga bagian dimana dia waktu kecil pernah punya pacar bernama A Ling. Suatu hari, A Ling pergi dari desa dan meninggalkan Ikal. Sebelum pergi, A Ling memberi sebuah buku pada Ikal tentang sebuah desa bernama Edensor. Buku itu membuat Ikal terinspirasi untuk bisa pergi ke Edensor. Suatu hari di hari yang dingin, Arai terkena penyakit parah yang bisa berbahaya saat musim dingin. Arai pun dipulangkan ke Indonesia karena hal itu. Akhirnya, Ikal memutuskan untuk ikut dosennya bernama Profesor Turnbull ke Sheffield, Inggris. Karena waktu itu Profesor Turnbull sedang tidak ada, Ikal pun memutuskan berjalan-jalan di sekitar pedesaan. Ketika itu, ia sampai di sebuah desa yang indah. Ikal dilanda dẽjắ vu. Ia seperti pernah ke tempat ini, saat bertanya kepada orang, ia akhirnya tahu nama desanya. Tahukan kawan, nama desa itu? Desa itu adalah…Edensor. Komentarnya : Menarik, seruu!!! Gokil!! Harus baca!!! Karena sangat inspiratif sekali!!

 

Acara kedua launching buku kumpulan puisi karya Sunaryo Broto berjudul Aku Ingin Hidup Lebih Lapang. Buku ini berisi kumpulan puisi karyanya selama menjadi karyawan di PKT Bontang sejak 1992-2007. Bukan berarti semuanya karyanya dikerjakan di Bontang. Bontang hanya tempat berlabuh untuk mengendapkan ide dan menampung luapan emosi. Puisi ditulis di beberapa tempat, antara lain di Yogya, Solo, Jakarta, Suka Bumi, Manado, Makasar, Mekkah, Medinah, Kairo, Manama, Alexandria, di atas kereta api, di ruang tunggu bandara dll. Ada sekitar 72 puisi dalam buku tersebut. Launching buku disertai baca puisi oleh pengarangnya dan Kusnul Nurmanto. Diselingi diskusi karya dan pembahasan dengan santai.

 

Diantara suguhan nasi uduknya Mbak Lisna yang enak banget he..he..., bakso, kacang, coctail, rengekan anak dan buku-buku tebal bertebaran kita saling berbagi pengalaman dan obsesi. Saling melontarkan ide, komentar, guyonan ditambah bumbu-bumbu cerita sedikit. Ezrinal juga menceritakan tentang tulisannya yang dikirim ke sebuah situs di internet yang sampai diterjemahkan ke beberapa bahasa di beberapa situs. Pertemuan bukan hanya sekedar membahas karya penulis tetapi latar belakangnya. Dalam kondisi apa harus menulis dan bagaimana harus menulis. Bahan baku buku hampir semuanya punya, fasilitas juga berlimpah, hanya tinggal menuangkannya saja. Suatu saat juga harus lahir sebuah buku dari komunitas ini. Hanya waktu yang membuktikan. [sb]

Sabtu, 05 Januari 2008

Resensi Buku : Laskar Pelangi

Judul Buku       :  Laskar Pelangi

Pengarang            : Andrea Hirata

 Penyunting          :  Suhindrati a. Shinta

Penerbit                 : PT Bentang Pustaka

Jumlah Halaman                : xviii + 534

Tahun Terbit       :  September 2005 (Cetakan   Pertama, November 2007 (cetakan keduabelas).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Saya merasa ”norak habis” untuk membuat resensi buku Laskar Pelangi, Sang Pemimpi, dan Edensor. Karena baru beberapa minggu atau hari lalu saya membeli buku dan membacanya tanpa henti. Sementara seribu lebih pembaca (per akhir Desember 2007) telah berkomentar dalam www.sastrabelitong.multiply.com sejak diterbitkan Laskar Pelangi di bulan September 2005. Lebih dari dua tahun lalu. Seratus persen berisi sanjungan untuk Andrea Hirata. Dan payahnya, saya belum juga mendapat kesempatan sebagai kesekian ribu penggemar Andrea dalam website (blog) tersebut karena saking banyaknya pengunjung, dan saking ”lemot”-nya internet di rumah. Namun tak apa-apa, setidak-tidaknya bisa berbagi dan berdiskusi dengan teman-teman sesama anggota CB-33.

 

L

 

Askar Pelangi, walau dengan kualitas kertas di bawah buku Sang Pemimpi maupun Edensor, adalah ”ruh” awal yang diletakkan oleh Andrea untuk buku selanjutnya : Sang Pemimpi dan Edensor. Walau di dalam Sang Pemimpi dan Edensor, tokoh-tokoh awal Laskar Pelangi hanya disinggung sedikit, dan seakan sambil lalu. ”Ruh” awal sesungguhnya adalah jiwa atau pribadi si tokoh cerita : Ikal. Ikal tokoh tengil, cerdas, rendah hati, mudah penasaran terhadap sesuatu yang baru, suka bertualang, romantis, bertanggungjawab, mempunyai kegigihan dalam mencapai sesuatu, dan secara visual berambut keriting. Kegigihan dan kepercayaan akan tercapainya sesuatu digambarkan bukan serta merta tumbuh dari diri Ikal, namun di-”inisiasi” oleh tokoh-tokoh dan kondisi lingkungan Ikal sehari-hari. Tokoh Ikal terbaca sebagai Andrea Hirata. Karena Andrea bercerita mengalir seperti bila Sdr. Sunaryo Broto bercerita soal jalan-jalannya di Mesir, ataupun bila saya sendiri bercerita tentang pengalaman saya dengan lancar,  seakan kenangan tersebut terekam kembali di pelupuk mata. Dalam http://pencintabuku.wordpress.com bahwa Andrea mengaku novel ini awalnya hanya merupakan catatan kenangan terhadap masa kecilnya di Belitong (bahkan juga pengalaman kehidupan dewasa yang dialaminya baru-baru saja dalam Edensor, dan agak baru dalam Sang Pemimpi).

 

Laskar Pelangi  sesungguhnya adalah wajah kehidupan sebagian besar anak-anak Indonesia di era tahun 70 – 80’an, atau bahkan saat ini. Hidup prihatin, itu bagi kacamata orang dewasa yang mapan, dan menjadi ”emangnya gue pikirin” dan ”enjoy-enjoy saja” bagi anak-anak. Yang penting bermain dan bergembira, makan seadanya, kalau lelah tidur. Beres deh!. Walaupun pengalaman Andrea lebih spektakuler karena dia hidup di pulau yang keras namun indah : Pulau Belitong. Saya bayangkan betapa penghuni pulau tersebut kadang  ”merasa sendirian” bila berjalan memutari pulau Belitong yang dikelilingi oleh lautan luas! Namun si Ikal and his gang-nya memanfaatkan kondisi lingkungan ini dengan penuh keceriaan dan syukur (yang awalnya mungkin suatu bentuk kepasrahan dari kondisi keseharian yang selalu dihadapi), yang nantinya akan bermanfaat bagi kehidupan selanjutnya. Andrea menggambarkan bagaimana kondisi pendidikan dari yayasan Muhammadiyah dengan sangat menyentuh. Ibu guru Muslimah yang mempunyai semangat tinggi mendorong siswa-siswanya agar menjadi seorang yang ”berhasil” dengan semangat tanpa tanda jasa (mengingatkan saya akan Bapak saya, baik sebagai seorang pendidik ataupun sebagai orang Muhammadiyah yang juga terlibat dalam yayasan pendidikan Muhammadiyah dan bersemangat ’45, tak jauh berbeda dengan Pak Harfan dan Bu Muslimah). 

 

Dalam Laskar Pelangi kita diajak oleh Ikal untuk bertualang bersama anggota Laskar Pelangi  yang lain : Lintang, Trapani, Mahar, Borek, Kucai, Sahara, A Kiong, Syahdan, dan Harun. Sepuluh anak. Memenuhi syarat agar SD Muhammadiyah Belitong masih tetap ada! Dalam Laskar Pelangi ini Ikal berkenalan dengan A Ling, kekasih platonisnya, yang selalu menyemangati hidup Ikal hingga dalam buku Edensor (mungkin hingga sekarang).

 

Seputar kehidupan PN (sebutan untuk Perusahaan Negara Timah Belitong) dikupas tuntas sesuai kaca mata Ikal yang terang benderang dengan metafora-metafora-nya yang pede habis.

Kehidupan sebagai anak pegawai rendahan PN, anak laut, siswa yang belajar di bawah gedung sekolah reyot (namun dinaungi oleh pohon filicium yang rindang dan merupakan satu komunitas yang dipenuhi oleh keceriaan hidup berbagai makhluk), bermain di saat hujan, perlombaan antar sekolah, dan euforia kemenangan khas anak-anak, memenuhi cerita ceria Ikal di masa anak-anak (SD) hingga menjelang remaja (SMP). Di Bab akhir Laskar Pelangi, Ikal bercerita tentang duabelas tahun kemudian setelah lulus SMP, dan bagaimana potret kesepuluh pasukan Laskar Pelangi di saat itu.

 

S

 

Ang Pemimpi, buku kedua dari tetralogi Laskar Pelangi. Dengan warna cover yang agak suram (abu-abu) dibandingkan cover buku pertama yang cerah merah jambu dengan siluet sekelompok anak bermain di pinggir laut. Cover ini bergambar seorang pria gagah yang merenung di ujung jalan kayu yang menjorok ke laut. Pose yang mengingatkan saya akan patung The Little Mermaide di pelabuhan Kopenhagen dengan versi lain (mungkin ini ide Andrea yang pernah juga singgah di Denmark selama berkeliling Eropa terobsesi oleh A Ling, tokoh cinta platonisnya, dalam buku ketiga : Edensor). Bercerita tentang seputar kehidupannya di masa SMA dan kebanggaannya dapat bersekolah di SMA Bukan Main, SMA Negeri Belitong. Sebuah SMA favorite di Pulau Belitong.

 

Dalam Sang Pemimpi, tokoh-tokoh pemberani tidak lagi berjumlah sepuluh orang lagi, namun ”hanya” tiga orang. Tanpa satupun dari kesembilan anak di Laskar Pelangi muncul lagi sebagai tokoh bersama Ikal. Mungkin karena keterbatasan mereka untuk dapat mendaftarkan diri ke sekolah menengah atas. Sesuai dengan  kenyataan dalam masyarakat kita hingga hari ini bahwa  tingkatan pendidikan tersebut masih dianggap cukup tinggi dan memerlukan biaya yang cukup besar. Hanya Ikal, Arai, dan Jimbron saja dari kampung mereka yang dapat melanjutkan ke SMA. Dalam buku pertama, saya tidak begitu mengerti mengapa Arai sama sekali tidak disebut-sebut oleh Andrea, padahal Arai sudah diangkat sebagai anak oleh Ayah Ikal pada saat Ikal juga masih SD. Sebagai pembaca, saya anggap cerita Laskar Pelangi ”seakan terputus” dengan Sang Pemimpi dalam hal satu ini. Dalam Sang Pemimpi, peran Arai sangat terlihat jelas dalam kehidupan Ikal, seperti tokoh Lintang dalam Laskar Pelangi. Persahabatan ketiga orang ini begitu unik. Arai digambarkan sebagai sosok yang tegar, penyayang, dan optimis. Sedangkan Jimbron, bertubuh besar, namun penakut, dan terobsesi akan kuda. Semangat hidup Ikal cukup banyak tergantung pada Arai. Saudara jauh yang sangat menyayangi dan melindunginya. Walau perawakan mereka hampir sama ”kecilnya”.

 

Dalam buku Sang Pemimpi banyak pengalaman lucu yang diceritakan oleh Andrea perihal Ikal, Arai, dan Jimbron. Soal bersembunyi dari kejaran guru galak, sampai masuk ke box pendingin ikan, sembunyi-sembunyi melihat film orang dewasa di bioskop yang membuat berdesir darah mudah mereka, hingga soal detik-detik penerimaan rapor mereka yang juga mempertaruhkan harga diri orang tua mereka masing-masing, karena ini menyangkut rangking di sekolah yang diumumkan di depan seluruh orang tua murid!

 

Betapa Andrea pandai sekali membuat pembaca terharu, membayangkan bagaimana ayah Ikal selalu memakai baju safari satu-satunya yang semalaman sudah diuapin dengan daun pandan untuk acara penerimaan rapornya, dengan mengayuh sepeda sejauh 30 km menuju SMA Bukan Main. Di akhir Bab, Andrea menggambarkan kepergian Ikal dan Arai untuk memeluk mimpi-mimpi mereka, seperti beribu-ribu penduduk Indonesia, menuju kota harapan, kota metropolitan : Jakarta!

Resensi Buku : GENOM Kisah Spesies Manusia

Judul Buku            : GENOM: Kisah Spesies Manusia dalam 23 Bab        

Judul Asli               : GENOM: The Autobiography of A Species in 23 Chapters

Pengarang            : Matt Ridley

Penerjemah         : Alex Tri Kantjono

Penyunting            : DR. Wildan Yatim                                                

Penerbit                 : Gramedia Pustaka Utama

Jumlah Halaman                : 384

Tahun Terbit        : 2005

Penghargaan       :Buku Bermutu Yayasan Adikarya Ikapi-Ford Foundation

 

  

T

ubuh manusia adalah surga bagi para penggemar misteri. Terdiri atas sekitar 100 triliun sel,yang kebanyakan berdiameter 0.1 mm, misteri tubuh manusia, sebuah mikrokosmos, tak kalah menakjubkan dengan miliaran benda langit dalam galaksi makrokosmos. Dalam setiap sel manusia ada sebuah inti atau nukleus. Di dalam inti ada dua set (sepasang) genom manusia. Satu set genom berasal dari ibu, satu set lagi dari ayah. Perkecualian ada dalam sel telur dan sel sperma yang masing-masing memiliki satu set saja, dan sel darah merah yang tak memilikinya sama sekali. Setiap set genom terdiri atas 23 kromosom yang memiliki 80.000 gen lebih. Ketika manusia beranak pinak, mereka mewariskan satu set lengkap yang merupakan hasil saling tukar antara sebagian kromosom-kromosom ayah & ibu dalam prosedur yang disebut rekombinasi. Kita tentu masih ingat basa-basa penyusun DNA, yakni A,C,G, & T, kependekan dari adenin, citosin, guanin, & timin. Basa-basa ini dilambangkan dalam huruf latin, karena sebagian besar perintis ilmu genetika berbahasa inggris. Seandainya para peletak dasar genetika adalah orang arab, mungkin huruf yang digunakan adalah alif, kha, ghain, & ta'. Atau jika orang jawa, maka akan dipakai huruf ha, ca, ga & ta.

 

Untuk memudahkan memahami genom manusia, Matt Ridley -jurnalis sains penulis buku ini- menganalogikan genom dengan sebuah buku. Sebuah buku adalah serangkaian informasi yang ditulis secara linier satu dimensi, melalui suatu kode yang disebut abjad. Abjad-abjad membentuk kata, kata-kata membentuk paragraf, paragraf-paragraf membentuk bab-bab cerita. Maka demikian pula dengan genom. Basa-basa membentuk kata (kodon dalam istilah genetika), kata-kata membentuk paragraf (disebut ekson), setiap paragraf diselingi dengan ’iklan’ (disebut intron), paragraf-paragraf membentuk cerita (disebut gen), dan akhirnya cerita-cerita ini membentuk sebuah buku (disebut genom) yang terdiri atas 23 bab (disebut kromosom).

 

Perbedaan genom dengan buku ada pada medium penulisannya. Jika buku ditulis pada kertas, maka genom ditulis pada rantai-rantai panjang gula dan fosfat (disebut molekul-molekul DNA) tempat basa A,C,G,T melekat ke samping membentuk anak-anak tangga berpilin rangkap dua (double helix). Tiap kromosom adalah sepasang molekul DNA yang sangat panjang. Sebuah untai DNA dapat menyalin diri sendiri (replikasi) dengan merakit sebuah untai komplementer dengan basa T berpasangan dengan semua basa A (atau sebaliknya), dan basa G berpasangan dengan basa C (atau sebaliknya).

 

Perbedaan bahasa genetika, bahasa umum, dan bahasa komputer adalah bahwa bahasa genetika tersusun atas 4 abjad, bahasa umum 26 abjad, dan bahasa komputer 2 abjad biner 0 dan 1. Dan inilah keajaiban genom: dari 4 abjad ia mampu menyusun jaringan, organ tubuh, dan akhirnya manusia utuh yang berbeda-beda (unik). Berikut ini beberapa keajaiban lain genom manusia dari ribuan yang sudah terungkap. Sekali lagi, ini hanya sebagian kecil dari ribuan kode yang telah terungkap.

 

Kepribadian Bawaan

Saya mengambil contoh keponakan saya. Kepribadian anak 8 tahun ini yang paling menonjol adalah keras kepala. Tak seorang pun di keluarganya yang akan didengarkan kata-katanya.Mungkin bukan kebetulan jika ayahnya adalah yang paling keras kepala di antara kami tiga bersaudara. Kakeknya pun tak beda. Jadi apakah ada gen keras kepala pada kromosom kita yang diturunkan? Entahlah, saya hanya menebak. Tapi mari kita simak apa cerita Ridley tentang kromosom 11.

 

Di kromosom ini ada sebuah gen bernama D4DR yang merupakan resep untuk membentuk hormon bernama dopamin. Singkatnya, dopamin adalah bahan kimia perangsang otak. Jika terlalu sedikit, orang bisa kurang inisiatif & motivasi. Bila terlalu banyak, orang akan mudah bosan dan suka berpetualang. Dean Hamer tahun 1990 berhasil menemukan bahwa ada korelasi nyata: para petualang memiliki satu salinan gen D4DR yang lebih panjang.

 

Ada pula hormon serotonin yang diproduksi gen pada kromosom 11. Kadar serotonin yang luarbiasa tinggi akan menjadikan orang kompulsif, bahkan bisa menderita sindrom obsesif-kompulsif. Sebaliknya, serotonin yang terlalu rendah akan membikin orang jadi impulsif. Para pelaku bunuh diri & kejahatan sadis, seringkali adalah mereka yang kekurangan serotonin.

 

Ridley memberi contoh sebuah keluarga Belanda yang para prianya menjadi penjahat selama tiga generasi. Tidak diragukan lagi bahwa penyebabnya adalah gen. Ditambah lagi dengan fakta bahwa mereka diasuh oleh sesama bandit, sempurna sudah ”cetakan” itu. Seorang bandit itu diteliti memiliki sebuah versi gen tidak lazim yang disebut monoamin oksidase A. Gen ini bertanggung jawab atas penguraian serotonin. Besar kemungkinan kelainan penguraian serotonin oleh gen tsb membuat pria-pria itu menjalani hidup jahat.

 

Jadi ada baiknya mulai sekarang, Anda dan pasangan Anda menginventaris kepribadian negatif dari para leluhur (misal: masokisme, exhebisionisme). Dan jangan biarkan anak-anak Anda tumbuh dalam asuhan/lingkungan yang membuat karakter negatif itu menemukan ”habitatnya”.

 

Hipotesis di atas juga berlaku sebaliknya: karakter positif tidak bisa tumbuh tanpa lingkungan/asuhan yang kondusif. Satu contoh adalah Helvy Tiana Rosa dan anaknya, Faiz. Helvy bersama adiknya, Asma Nadia, adalah sastrawan. Mungkin secara genetis mereka memiliki bakat verbal di atas rata-rata, dan bukan sebuah kebetulan jika menurun pada anaknya. Tapi bakat verbal Faiz tidak mungkin berkembang seandainya Faiz sejak lahir diasuh Jusuf Kalla atau Aburizal Bakrie. Alih-alih menjadi penulis, bisa-bisa Faiz menjadi politisi atau pedagang atau bahkan politisi yang sekaligus pedagang.

 

Masih ingat Steffi Graf? Jenius tenis yang tercatat sejarah sebagai juara termuda Wimbledon (pada masanya) ini menikahi Andre Agassi, jenius tenis lainnya. Agassi dikenal sebagai petenis dengan return service yang terbaik. Tidak heran bila anak Steffi dan Agassi akhirnya juga menjadi petenis besar. Dengan catatan, anak itu diasuh oleh orang Steffi & Agassi sendiri, bukan oleh David Beckham & Victoria.

 

Suratan Umur

James Watson, penemu DNA –bukan rekan Sherlock Holmes- pada tahun 1972 mengamati bahwa mesin-mesin penyalin DNA dalam sel (disebut polimerase) tidak dapat mulai bekerja dari ujung terdepan sebuah untai DNA. Polimerase baru mulai dapat bekerja setelah beberapa ”kata” terdepan dalam teks DNA mereka lewati. Akibatnya teks menjadi sedikit lebih pendek setiap kali mengalami duplikasi. Coba Anda bayangkan sebuah mesin fotokopi yang menghasilkan kopian sempurna atas paper anda tetapi selalu mulai dari alinea kedua tiap halaman dan berakhir di alinea kedua dari belakang. Cara mengatasi kelakuan mesin fotokopi aneh ini adalah dengan memulai dan mengakhiri tiap halaman dengan satu paragraf tanpa makna yang dapat dibuang. Inilah yang dilakukan oleh kromosom. Pada ujung kromosom selalu ada sepenggal teks berisi perulangan kata yang tak bermakna, yang berulang sampai sekitar 2000 kali. Penggalan teks ini disebut telomer.

 

Akan tetapi setiap kali kromosom disalin, sebagian kecil telomer tertinggal. Setelah ratusan kali salinan, bagian ujung kromosom menjadi begitu pendek sehingga gen-gen penting yang dekat dengan ujung kromosom tak tersalin. Itu sebabnya sel-sel menjadi tua dan mati setelah usia tertentu. Pada seseorang berusia 80 tahun, telomer rata-rata memendek hampir separuh dari saat empunya dilahirkan.

 

Pernah dengar obat awet muda? Adalah telomerase (ditemukan tahun 1984 oleh Carol Greider dan Elizabeth Blackburn) protein yang dapat memperbaiki & memperpanjang kembali telomer. Telomerase diproduksi gen TEP1 pada kromosom 14. Telomerase tampaknya berperilaku seperti obat hidup abadi bagi sel-sel. Ketiadaannya menjadi penyebab utama sel-sel menjadi tua & mati.

 

Tuhan telah membangun telomer-telomer kita dengan panjang tertentu sehingga dapat bertahan paling lama 75-90 tahun setelah menjadi usang dan sekian kali diperbarui oleh telomerase. Sudah barang tentu, panjang telomer setiap orang sangat bervariasi (7000-10.000 huruf DNA per ujung kromosom). Panjang telomer diwariskan secara utuh, maka begitu pula bakat panjang umur. Orang dari keluarga panjang umur, dengan anggota yang rata-rata mencapai usia 90, mungkin memiliki telomer lebih panjang dibanding kebanyakan orang. Jeanne Calment, orang pertama yang merayakan ulang tahun ke 120 pada tahun 1995, meninggal pada umur 122. Saudara laki-lakinya hidup sampai usia 97.

 

Jadi kini, teman lama saya, Wolverine dan Duncan Macleod Si Highlander, tampaknya tak terlalu asing lagi bagi Anda. Mereka mungkin saja memiliki telomerase yang benar-benar over supplied, hingga tak bisa mati, kecuali jika colokan DVD player anda dicabut atau jika tiba-tiba listrik BTN padam.

 

Perkenalkan: KANKER

Sebagaimana telah disinggung di atas, sel telah diberi ”surat ijin” oleh gen untuk membelah sampai pada waktu tertentu mereka harus berhenti dan mati. Namun jika sel-sel ini bandel dan terus membelah tanpa henti, akibatnya adalah jaringan yang tumbuh tak terkendali disebut cancer. Nama cancer, yang berarti kepiting, awalnya adalah sebutan untuk arteri-arteri baru yang tumbuh dalam tumor, yang berpola mirip kaki kepiting.

 

Dalam kromosom 17 ada gen bernama TP53 yang ditemukan David Lane tahun 1979. Inilah gen penekan tumor yang mencegah sel-sel nakal terus membelah menjadi kanker. Gen TP53 menyandikan protein bernama p53, yang dalam keadaan normal (tidak ada kanker) segera dicerna oleh enzim lain sehingga waktu paruhnya hanya 20 menit. Akan tetapi begitu menerima ”laporan” adanya sel-sel teroris yang tak hentinya membelah, p53 segera beraksi. Protein p53 mengambil alih kekuasaan di seluruh sel dalam jaringan tersebut, seperti David Duchovny yang datang ke TKP lalu berkata,”Kami dari FBI, mulai saat ini kami mengambil alih wewenang.”

 

Maka cukup dengan mengaktifkan gen-gen lain, p53 akan meminta sel untuk menghentikan replikasi DNA-nya, menunda pembelahan, atau langsung bunuh diri. Bunuh diri sel-sel kanker dengan cara ini disebut apoptosis (Yunani: jatuhnya daun-daun di musim gugur). Inilah senjata tubuh yang paling penting, benteng terakhir guna melawan kanker.

 

Orang awam, bahkan dokter, sering mengira bahwa kemoterapi bisa berhasil karena metode ini sukses mematikan sel-sel kanker yang sedang membelah, dengan merusak DNA mereka saat replikasi. Sesungguhnya kemoterapi adalah seperti vaksinasi. Scott Lowe menemukan bahwa kemoterapi tidak cukup untuk membunuh sel kanker, tapi hanya menyebabkan sedikit kerusakan pada DNA pasien. Kerusakan DNA inilah yang justru akan mengaktifkan p53, yang memberi perintah pada sel-sel kanker untuk bunuh diri dengan sukarela.

 

Wawasan di atas penting sekali, agar kita tidak ditipu oleh dokter yang nakal. Sebab kemoterapi untuk menyembuhkan kanker apa pun, tidak akan berhasil bila gen TP53 dalam tubuh pasien telah rusak. Ingat bahwa gen ini menghasilkan p53, pasukan SWAT yang membasmi sel-sel teroris. Jika gen TP53 pasien telah rusak, alih-alih menyarankan kemoterapi dan memberi harapan palsu pada pasien dan keluarganya, dokter yang baik seharusnya menyarankan pasien untuk mengisi hari-hari terakhirnya untuk bertobat.

 

Apakah Kecerdasan Diturunkan?

Menjelang akhir 1997, seorang ilmuwan mengumumkan bahwa ia telah menemukan satu gen kecerdasan di kromosom 6. Orang kebanyakan memiliki urutan tertentu pada gen tsb, tapi anak-anak cerdas dengan IQ 160 yang diteliti olehnya memiliki urutan agak berbeda pada gen IGF2R tsb. Penemuan Robert Plomin ini segera mengundang kontroversi. Tak banyak perdebatan dalam sejarah sains yang berlangsung seseru perdebatan seputar kecerdasan. Parameter uji kecerdasan dengan IQ sendiri merupakan kontroversi. Di akhir 1990-an, banyak ilmuwan memperkenalkan kecerdasan yang lain: emotional, spiritual, adversity quotience, dll. Seorang pakar, Howard Gardner, bahkan telah mendefinisikan 9 jenis kecerdasan yang berbeda, di antaranya kecerdasan visual, kecerdasan verbal, kecerdasan musik, bahkan kecerdasan atletik. Penelitian yang terakhir ini rasanya lebih adil. Mengatakan Mozart, Hemingway, atau Zidane lebih bodoh daripada Newton, kini akan terdengar cukup konyol.

 

Penelitian lain dilakukan Thomas Bouchard. Dimulai th 1979, ia mengumpulkan pasangan-pasangan kembar terpisah dari seluruh dunia dan menguji kepribadian dan IQ mereka. Hasil yang diluar dugaan dari penelitian ini adalah korelasi antara anak-anak adopsi yang dibesarkan bersama ternyata nol. Artinya,tidak ada pengaruh asuhan keluarga terhadap IQ. Jika bukan asuhan keluarga,lalu apa yang menentukan IQ? Jawabnya adalah peran penting rahim seorang Ibu! Menurut studi lain, pengaruh peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam kandungan terhadap kecerdasan tiga kali lebih besar dibanding apapun yang diperbuat oleh orangtua sesudah bayi lahir.

 

Kesimpulan yang dapat diambil dari semua studi tadi adalah, kali ini menurut Ridley, bahwa kira-kira separuh IQ kita dapatkan melalui pewarisan, dan kurang dari 20% berasal dari asuhan keluarga. Sisanya berasal dari kandungan, sekolah, dan teman sepergaulan. Sifat pewarisan IQ sewaktu anak-anak porsinya kurang lebih 45%, sedangkan pada masa akhir remaja naik menjadi 75%. Sejalan dengan pertumbuhan, anak secara berangsur mengekspresikan kecerdasan bawaan dan meninggalkan pengaruh-pengaruh sebelumnya yang ditanamkan orang lain. Akhirnya, meskipun terbukti sahih bahwa kecerdasan diwariskan, sifat pewarisan bukan berarti tidak dapat berubah. Kecerdasan bawaan sangat berperan, sebagaimana pengaruh lingkungan asuhan tak dapat disepelekan. Ambillah orok dari sepasang suami-istri profesor mekanika kuantum dan doktor biologi molekuler, lalu besarkanlah ia di Nusa Tenggara Timur, tempat dimana anak-anak menderita marasmus. Tujuh belas tahun kemudian kita akan membuktikan kesimpulan Ridley.

 

Banyak hal menakjubkan lain yang diungkap Ridley dalam buku ini berkaitan dengan takdir dan gen manusia. Di antaranya tentang kelainan homoseksual. Apakah homoseksual dibawa secara genetik atau dibentuk oleh lingkungan?

 

Bacalah buku ini, salah satu buku non-fiksi terbaik yang pernah saya baca, dan temukanlah betapa Maha Cerdas dan Maha Kuasanya Sang Pencipta Genom, sebuah cetak biru berisikan milyaran informasi dalam ukuran molekuler. Produsen hard-disk manapun; Toshiba, Seagate, maupun Fujitsu; tak akan mampu menandingi teknologinya.

 

[epratolo-club buku 33]

 

Resensi Buku : Luruh Bersama Daun-Daun

Judul Buku            : Luruh Bersama Daun-Daun

Judul Asli               : WINTER AND NIGHT

Pengarang            : S. J. Rozan

Penerjemah         : Meda Satrio

Penyunting            : Vitri Mayastuti      

Penerbit                 : S e r a m b i

Jumlah Halaman                : 615

Tahun Terbit        : 2002 (Buku Asli)

Tahun Terbit        : 2006 (Buku Terjemahan)

Penghargaan       : Pemenang Edgar Award

 

Dalam cerita maupun berita yang sering kita baca, kehidupan di Amerika penuh dengan perjalanan hidup yang spektakuler. Ada kehidupan selebritis yang penuh ke-glamour-an, ketenaran maupun kecantikan yang seakan tak akan berakhir, namun di sisi lain ada kehidupan yang dicengkeram oleh kemiskinan, kehidupan keluarga yang berantakan, kekerasan dalam rumah tangga, children abusing,  kekerasan remaja, persaingan hidup yang sangat ketat dsb-nya. Seakan hidup di Amerika adalah hidup di dunia yang tak wajar. Apakah memang ini gaya kehidupan Amerika? Selalu berlebihan dan arogan, atau lingkungan kehidupan di Amerika yang begitu keras sehingga memunculkan stress dan paranoid pada masyarakat yang tidak mempunyai pribadi kuat,  ataukah ini hanya sekedar gaya tulisan ”Penulis” Amerika?

 

Dalam kehidupan nyata, pada beberapa waktu lalu seorang mahasiswa Virginia Tech berkebangsaan Amerika Serikat dan Imigran dari Korea Selatan, dengan penuh percaya diri bak jago tembak, membantai tiga puluh tiga orang di kampusnya. Konon tindakannya tersebut akibat stress dan ditujukan untuk membalas dendam ke lingkungan akibat pelecehan ataupun pengabaian diri oleh lingkungan yang berbau materialistis yang diterima si Cho Seung – Hui sejak kecil, yang kemudian meledak dalam bentuk keberingasan yang dilakukannya dengan ”dingin”. Agaknya kekerasan yang didorong oleh sesuatu yang bersifat deprsif dan obsesif adalah tindakan populer dalam menghadapi kehidupan di Amerika Serikat yang begitu keras dan penuh persaingan ini.

 

Yang jelas S.J Rozan menyajikan Novel Misteri ini jauh sebelum kejadian penembakan butral di Virginia Tech terjadi. Dengan penyajian karakter yang cukup bagus, cerita yang mengalir dan gaya narasi yang cukup detail, Novel ini ”sedikit berasa” layaknya kehidupan yang dijalani oleh Cho si penembak tigapuluh tiga (bukan CB-33) mahasiswa Virginia Tech namun dalam versi lain, yang merasakan betapa beratnya ”persaingan hidup” di dunia Amerika yang materialistis dan sangat berat.

 

Detektif swasta Bill Smith; kulit putih asli Amerika Serikat dan mitranya, Lydia Chin, yang ini orang Amerika keturunan kesekian imigran dari China; berusaha menemukan remaja bau kencur (sekaligus keponakan Bill Smith sendiri) : Gary, lima belas tahun, dan mencari alasan mengapa si anak ini melarikan diri. Pencarian mereka membawa mereka ke keluarga Gary di sebuah kota kecil di New Jersey dan menemukan salah satu teman sekolah Gary tewas. Bill dan Lydia menggali lebih dalam lagi dan mengetahui bahwa peristiwa ini serupa dengan kasus pembunuhan dan bunuh diri yang terjadi beberapa dasawarsa sebelumnya.

 

Bill harus membongkar sebuah kejahatan yang sudah terkubur begitu lama dan berhadapan dengan masa lalu dirinya sendiri yang gelap.

 

Isi novel misteri Winter and Night tidak seheboh komentar-komentar dari harian atau penerbit yang tertera di halaman depan maupun halaman belakang novel ini, karena cerita sejenis banyak kita jumpai dalam bentuk novel misteri maupun cerita-cerita film yang kita lihat di layar lebar, VCD, maupun miniseri TV. Namun dengan membaca novel ini setidaknya dapat mengetahui tulisan yang dainggap dahsyat dan bertenaga menurut harian-harian di Amerika sana. Kita akan diajak menekuni kisah detektif tentang kekerasan akibat keambisiusan khas Amerika Serikat yang dilatarbelakangi oleh faktor psikologis kaum remaja di tengah-tengah orang dewasa yang tidak pernah beranjak dewasa...  Karena di era globalisasi, tidak mustahil dapat juga terjadi di Indonesia.

 

Bontang, 07 Mei 2007.

 

 

[mp-club buku 33]

Jumat, 04 Januari 2008

Kumpul Bareng Komunitas CB-33

 

Telah lahir komunitas C B 33 adalah yang singkatan dari Club Buku 33. Inilah klub buku pertama di lingkungan Pupuk Kaltim (PKT). Sejarah CB 33 berawal dari kegiatan pinjam-meminjam buku diantara beberapa karyawan pecinta buku. Tergoda untuk membentuk komunitas baca dan memperluas jaringan pinjammeminjam buku, beberapa karyawan melalui bisik-bisik via email sengaja bertemu di rumah dinas Sunaryo Broto, Jl.Kecubung 33 PC PKT. Waswas jika dicap sebagai rapat Organisasi Tanpa Bentuk, maka pertemuan pada tanggal 3 Maret 2007 diberi tajuk Bedah Buku Catatan Haji Sebuah Hati. Yang disebut terakhir itu adalah buku karangan Sunaryo Broto, salah satu penggagas CB 33. Akhirnya nama CB 33 disepakati, yang mana CB adalah singkatan dari Club Buku dan 33 adalah nomor rumah dinas tempat pertemuan pertama ini berlangsung yang kebetulan sama dengan tanggal dilaksanakannya copy darat pencinta buku tersebut.

 

Sebagai pembedah buku, adalah H.Mudjib Utomo, penulis yang tak asing lagi di lingkungan PKT yang kebetulan adalah Kabag Data & Publikasi Humas PKT. Peserta bedah buku yang hadir antara lain Ezrinal Azis, Ketua Umum KKPKT; Edy Pratolo, Pemred Majalah Selaras ; Wijaya Laksana, Kasi Publikasi dan Dokumentasi Humas PKT; Manik Priandani, Process Engineer yang suka mengkhayal menjadi penulis dan anak semata wayangnya yang mulai menjadi pecandu buku, Tara; Kusnul Nurmanto, master ilmu lingkungan yang suka puisi; Mujab Abdullah, Kabag Biro K3LH; Yunu, Kepala Penerbit Etam Media Press KKPKT; dan Dwi Hendro Basuki, guru SD 2 YPK. Dan tentunya tuan rumah, Sunaryo Broto, mantan Pemred Selaras dan Media Pupuk Kaltim. Sayang Farabirazy Albiruni, Metalurgist yang juga penyair, berhalangan hadir karena sedang sibuk mengerjakan tugas kantor.

 

Diskusi dan bedah buku ini juga dihadiri oleh Hikmat Gumelar, seorang kolumnis dan budayawan asal Bandung yang menjadi tamu KKPKT. Diskusi berlangsung cair dan non-formal. Sambil menikmati kacang, pisang rebus, dan makanan kecil lain, mereka yang hadir menceritakan pengalamannya di dunia perbukuan.

 

Kusnul Nurmanto menceritakan koleksi bukunya yang beragam. Namun kini Kusnul lebih sering membaca buku yang ringan namun ’berkhasiat’’ alias mencerahkan. Mujab yang sempat mengkoleksi komik Gundala dan Godam pada waktu di Semarang berkisah tentang prinsip yang dipegangnya dalam hidup yaitu seperti air mengalir. Prinsip itu juga yang dipegangnya ketika membaca buku, sehingga ia membaca buku apa saja, dari A sampai Z, seperti air mengalir. Wijaya Laksana bercerita tentang kakek dari istrinya yang punya buku Satanic Verses karya Salman Rushdie yang pernah menghebohkan dunia. “Saking tebelnya kalo baca harus pakai sepatu safety, karena kalo ketimpa pasti kaki bakal remuk,“ kelakar Jay, “saya mau pinjem ga jadi-jadi, takut overweight bagasi,“ lanjut redaksi majalah Media PKT ini. Jay juga bercerita tentang pengalaman masa SD kala suka meminjamkan koleksi buku Perpustakaan miliknya, yang kemudian raib satu

persatu (karena tidak kunjung dikembalikan oleh peminjam). Manik bercerita tentang kemalasannya dalam membaca buku-buku “berat“ sehingga memilih membaca novel-novel dan tulisan-tulisan ringan. Bacaan berat dibaca sekali-sekali, dan membutuhkan waktu empat kali lebih lama dibandingkan membaca bacaan ringan dan romantis. Edy Pratolo berkisah tentang kesukaan membaca dan menulis yang dipunyai sejak kecil. Buku pertama yang ditamatkannya di usia 6 th adalah Lima Sekawan, “Memburu Kereta Api Hantu.“ Hobinya menulis diilhami oleh esai-esai Goenawan Mohamad dalam Catatan Pinggir. Sunaryo Broto yang pernah aktif di majalah “Balairung“ UGM dan mendirikan majalah mahasiswa Teknik Kimia Entropi, sewaktu mahasiswa bercerita kesenangan membaca sudah dari kecil dengan membaca majalah Si Kuncung, Bobo, Hai, Panyebar Semangat dan beberapa novel anak-anak terbitan Balai Pustaka. Dia bercerita betapa asyiknya membaca novel-novel Pramudya Ananta Toer. Semakin buku itu dianggap misterius dan dilarang, membuatnya makin penasaran dan mencari sampai ketemu buku yang dimaksud. Buku Bumi Manusia banyak menginsipirasi untuk menulis. Dari suka membaca buku, akhirnya tertarik untuk menulis. Menurut Hukum Broto I, kaidah yang berlaku umum untuk penulis adalah membaca sampai overflow dan kemudian menuangkannya dalam tulisan.

 

Lain halnya dengan pimpinan redaksi Media PKT, Bung Mudjib. Bapak yang satu ini mempunyai ketertarikan membaca sejak kecil. Baik itu buku otobiografi sampai novel dewasa. Dia sangat terkesan dengan penulis asing yang kemudian jadi orang “Bali“: Ketut Tantri. Walau kala itu masih SD, dia sudah berani membaca Revolusi Di Nusa Damai! Bagi ketua KKPKT, Ezrinal Aziz, dongeng dan cerita sudah menjadi konsumsinya sejak kecil. Hal ini terbawa ke dalam kehidupan selanjutnya, sehingga dia sangat menyukai seni dan sastra. Koleksi bukunya banyak yang berat. Dalam arti sesungguhnya (bila di-kilo-kan), juga berat dalam hal isi. “Dijamin imbang dengan Abie“, begitu seloroh Edy.

 

Hikmat Gumelar mendengarkan cerita-cerita komunitas CB-33 dengan antusias dan ekspresif. Setiap peserta yang sedang berbicara dan bercerita, diperhatikannya dengan seksama. Pada gilirannya, dia bercerita tentang aktivitas kebudayaannya di Bandung. Bagaimana dia beserta istri dan teman-temannya membentuk suatu kelompok independen yang mengembangkan minat baca, menulis, dan mendiskusikan hasil tulisan dalam sebuah club pecinta buku. Club tersebut bersifat mandiri. Bermula dari penerbitan dan percetakan yang dimiliki oleh Hikmat Gumelar, tulisan-tulisan anggota club tersebut diterbitkan dengan biaya yang lebih murah dibandingkan penerbit yang lain. Hikmat adalah pembaca buku apapun,“kecuali Fisika dan Kimia,“ kelakarnya. Hampir semua buku seolah-olah dibacanya.

 

Hal ini terlihat sewaktu menanyakan kepada Dik Tara, yang diajak ibunya, Manik, datang ke forum itu. “Apakah sudah membaca buku Totto-Chan (Si Gadis Kecil di Tepi Jendela) karangan Tetsuko Kuroyanagi?“ tanya Hikmat. Kata Tara buku itu memang bagus karena dia pernah membaca dan meminjamnya dari Perpustakaan PIKA (Persatuan Istri Karyawan) PKT. beberapa waktu lalu. Walau tidak datang pada pertemuan tanggal tiga bulan tiga, Abi (panggilan Farabirazy Albiruni) mempunyai kisah yang unik yang dikisahkan via intranet tentang bagaimana dia mendapatkan buku Das Kapital mahakarya Karl Marx. “Saya dapat buku itu gak sengaja waktu liat loakan buku di Pasar Poncol, tiba-tiba ada razia Polisi Pamong Praja. Si tukang buku yang lagi megang 3 jilid buku itu langsung nyerahin bukunya ke saya dan bilang cepet bayarin nih buku. Saya kaget sekali waktu itu dan dengan tergesa merogoh kantong kemeja. Cuma ada duit 2000 perak. Uang itu langsung disambarnya dan dia langsung kabur entah kemana. Baru setelah di bis saya liat dan kaget ternyata itu buku yang paling dilarang di masa itu. Untung aja gak ketangkep waktu bawa-bawa buku itu, bisa berabe urusannya,“ kisah bujang lokal ini (mungkin sambil terkekehkekeh).

 

Maka demikianlah awal sejarah berdirinya CB 33: sejumlah orang yang punya hobi sama berkumpul sekadar mengobrol utara-selatan (ngalor-ngidul, kata orang Jawa) tentang buku. CB 33 nama yang sederhana. Sesederhana tujuan dan anggota Club ini yang sekedar untuk berbagi pengalaman membaca (reading experience mungkin kata Thukul Arwana). Karena hampir semua anggota adalah pekerja yang sibuk dengan pekerjaan masing-masing, klub ini tak punya jadwal pertemuan tetap apalagi padat. Mengalir seperti air, prinsip Bung Mujab. Nama juga tak terlalu penting, yang penting output dari klub ini, kata Edy. Maka jadilah Club Baca 33. Mengutip ucapan Gus Pur di Republik Mimpi, “Gitu aja kok repot (cari nama dan bikin jadwal tetap)“. Enjoy saja! Siapa mau gabung? [ep/emp]