Kamis, 12 Januari 2012

Menjadi Juri Temu Karya Mutu Nasional


Pada waktu pembukaan dengan peserta sekitar 1.200-an

Sekali-kali keluar dari rutinitas yaitu menjadi juri pada TKMPN (Temu Karya Mutu dan Produktivitas Nasional) ke 15 di Makassar pada tanggal 28 Nopember sampai 2 Desember 2011. TKMPN diselenggarakan di Hotel Clarion, Makassar yang dihadiri sekitar 1200-an pengunjung dari berbagai perusahaan di Indonesia. Menjadi juri pada stream A bersama Suhartono dari Pertamina dan Sunarso dari Primadaya dengan tugas menilai 24 makalah.
Seperti dilaporkan ketua panitia dari penyelenggara WKM (Wahana Kendali Mutu) Drs. Toha Rosadi Phd pada pembukaan tanggal 29 Nopember, “Acara temu karya mutu ke 15 merupakan acara yang terbesar jumlah pesertanya, diikuti 108 perusahaan dengan 240 makalah dan 1150-an peserta. Untuk jumlah peserta meningkat 133% dibanding tahun 2010. Ada 28 perusahaan pendatang baru dan 14 perusahaan sponsor. Acara diselenggarakan oleh 200 panitia termasuk 36 dewan juri dengan 10 stream penilaian.” Sebagai penyelenggara WKM (Wahana Kendali Mutu) bekerja sama dengan Asosiasi Manajemen Mutu & Produktivitas Indonesia dan didukung oleh APO (Asean Productivity Organization), Kemenperind dan Kemenakertrans.
Acara pembukaan dihadiri oleh Asisten III Administrasi, Drs. Yaksan Hamzah mewakili Gubernur Sulsel dan dibuka oleh Direktur Wilayah III Kementrian Perindustrian , Ir. Hasbi Assidiqi. Dalam sambutannya Hasbi Assidiqi mengatakan, “Apresiasi kepada penyelenggara WKM atas acara yang sudah dilakukan pada tahun ke 15. Pada temu karya ini penyelenggara memberi kesempatan pada perusahaan untuk demonstrasi, publikasi karya-karya bermutu dan semoga dapat meningkatkan wawasan bagi pengembangan mutu perusahaan. Dalam TKMPN diharap dapat menghasilkan pemikiran baru mendukung program pembangunan di daerah ini.”
Sebagai pembicara dalam pembukaan acara adalah Mr. Ang Ting Cheong dari Singapura yang memaparkan sharingnya berjudul The Journey of Productivity Improvement of REC Modules Singapore. Selain TKMPN, juga diselenggarakan International Quality & Productivity Convention (IQPC) 2011 dengan 1 stream internasional. Pembicara lain dalam acara tersebut antara lain, Mr. Abdul Rahman, Ir. Faisal Yusra SH (Pertamina), Ir. Thariq Abundan MM (Semen Tonasa), Ir. Anang Sayogo (Toyota Motor) dan Ir. Hendra Bahar MBA. Pada akhir acara peserta sempat mengunjungi pabrik Semen Tonassa di Pangkep, Trans Studio Makassar dan Pertamina Makassar setelah menyelesaikan tugas presentasi. (*/ Sunaryo Broto)

Sharing di Almamater




Sharing itu menyenangkan. Terlebih sambil mengunjungi sekolah kita dahulu. Dalam suatu kesempatan, kami berbagi ilmu dengan adik-adik kelas, mahasiswa Teknik Kimia UGM dalam program engineering judment. Ini acaranya KMTK (Keluarga Mahasiswa Teknik Kimia) untuk memberi bekal pada mahasiswa tingkat akhir. Materi seputar karir engineer di industri sesuai dengan bidang kerja saya di Pengembangan Karir dan Kinerja Pupuk Kaltim. Semoga berguna.

Senin, 09 Januari 2012

Jalan Sehat Nikmati Durian


Berpose setelah keluar keringat dan kemasukan durian dan rambutan

Sudah beberapa even belakangan ini, Persatuan Olah Raga Jalan Sehat (Porjas) Hash PKT tambah ramai pesertanya. Belakangan mulai bergabung Dirprod, Nugraha Budi Eka, dan Dirtekbang, Bakir Pasaman. Malah bersama beliau sempat menikmati jalur trekking yang paling berat, hutan Sangkimah sambil melihat pohon ulin terbesar di dunia. Biasanya yang rutin trekkingnya jalur hutan jati atau kebun sawit di dekat jalan pipa. “Sambil survey lokasi rumah wallet he..he…,” kata Darsono, ketua Hash PKT. Biasanya waktu jalan yang dibutuhkan sekitar 1 jam dan sudah keluar keringat. Startnya dari parkir lapangan tenis dekat Gedung Pika dan finisnya juga di situ sambil lesehan makan nasi pecel.
Mengawali 1 Januari 2012, Hash PKT yang dimotor oleh Ka SPI Musonef menambah trek baru yaitu jalur Cibodas turun ke hutan dan memutar balik ke arah kiri. “Bukan apa-apa sekalian kita mau nengok kebun durian dan rambutan yang dikelola Pak Marsidik,” kata Musonef. Siapa sangka di tengah hutan kecil tersebut ada 15-an pohon durian yang berbuah lebat. Juga banyak pohon rambutan jenis garuda yang buahnya menggiurkan. Lebih 30-an peserta termasuk ibu-ibu dan anak-anak yang bergabung pada jalan sore tersebut. Ikut dalam rombongan tersebut, Dirprod Nugraha Budi Eka dan GM Dalwaspab Lastyo Winarso. Lebih dari satu jam menyusuri jalan naik turun bukit di tengah hutan kecil. Melewati danau kecil dan sungai kecil lalu sampailah ada kebun buah. Ada pagar dan rumah penjaga kebun buah. “Kami makan durian dan rambutan sepuasnya sambil melepas keringat,” kata Muhenri, salah seorang peserta.
Memang skedul rutin Hash PKT biasanya Sabtu dan Minggu pagi tetapi menyambut durian digeser ke waktu sore. Lagian pada Minggu pagi 1 januari teman-teman masih banyak yang mengantuk karena begadangan menyambut tahun baru 2012. Waktu pulang, beberapa peserta asyik menenteng rambutan dan durian.
“Mungkin ini jalur trek ke 10, trek durian Cibodas he..he..,” kata Taufik, sekretaris Hash sekaligus seksi sibuknya. Taufik bersama Singgih biasanya yang melakukan survey lokasi trek baru dan memberi tanda sebelum kegiatan trekking dilakukan. Kegiatan jalan sehat ini dalam upaya menjaga kesehatan supaya tetap sehat dan produktif. Juga bisa dimanfaatkan untuk menjalin hubungan social dengan teman supaya lebih akrab. Siapa yg punya hobi jalan silakan bergabung dengan Hash PKT. (*/Sunaryo Broto)

Minggu, 08 Januari 2012

Dialog Borneo 2011


Bersama teman2 delegasi Bontang dan sastrawan Korrie Layun Rampan dan Ahmadun Yosi Herfanda

Geliat kegiatan sastra di Kalimantan Timur dalam 2-3 tahun belakangan ini sudah mulai menunjukkan perannya. Beberapa even sastra dalam beberapa skala digelar, diantaranya diselenggarakan Seminar Nasional Kebahasaan dan Kesastraan 2009 yang diselenggarakan Kantor Bahasa Kaltim. Pada even tersebut juga diluncurkan 4 buku dokumentasi sastra Kaltim, yaitu Kamus Bahasa Banua-Indonesia, Tata Bahasa Kutai, Biografi Pengarang Kalimantan Timur dan Ensiklopedia Sastra Kaltim. Dua buku terakhir berisi biografi dan beberapa karya sastra berbagai generasi dari sastrawan di Kaltim.
Patut dicatat, juga mulai bermunculan karya-karya cerpen, puisi, novel dari pengarang dari Kaltim yang diterbitkan sendiri atau kerja sama dengan penerbit. Juga adanya ruang cerpen di setiap Minggu pada Harian terbesar di Kaltim, Kaltim Post dapat menambah ruang dokumentasi karya sastra. Di luar itu kemungkinan besar masih banyak penerbitan yang belum tercatat atau dirilis melalui dunia maya.
Puncaknya adalah dengan diselenggarakannya Dialog Borneo-Kalimantan XI pada tanggal 13-15 Juli 2011 di kantor Gubernur Kaltim, di Samarinda. Pada even tersebut diluncurkan tiga buah buku penting sebagai dokumentasi sastra Kalimantan yang paling lengkap, yaitu Kalimantan dalam Prosa Indonesia, Kalimantan dalam Puisi Indonesia, Kalimantan Timur dalam Sastra Indonesia dan Sumbangan Borneo Kalimantan terhadap sastra Indonesia, Brunei Darussalam dan Malaysia. Keempat buku tersebut dieditori oleh sastrawan senior asal Kaltim, Korrie Layun Rampan. Buku terakhir berisi makalah dalam seminar Dialog Borneo.
Saya tidak tahu apakah semaraknya kegiatan sastra ini ada hubungannya pulang kampungnya sastrawan senior Korrie Layun Rampan ke bumi Etam setelah banyak berkarya dari luar bumi Etam. Tetapi saya rasa juga ada gayung bersambut antara sastrawan senior dengan para sastrawan Kaltim lainnya yang sekarang mulai banyak berkiprah.
Gubernur Awang Faroek Ishak membuka Dialog Borneo tersebut dengan langsung memesan 300 buku untuk didistribusikan ke perpustakaan daerah dan sekolah-sekolah. Juga menandatangani nota kesepahaman antara Rumah Sastra Korrie dengan Dinas Pendidikan dan Dinas Pariwisata Kaltim untuk pengembangan sastra. Bukan itu saja, dalam penutupan even sastra internasional tersebut, gubernur berjanji memberi dukungan pendanaan khusus pada program budaya dan sastra, memberi penghargaan dan hadiah seni terhadap sastrawan yang telah berjasa pada kesusasteraan Kaltim.
Ada lebih 500 delegasi yang datang dari propinsi di Kalimantan, Kalbar, Kalsel, Kalteng dan tuan rumah Kaltim. Juga beberapa tokoh senior sastra seperti Darman Moenir dari Padang, Ahmadun Yosi Herfanda dari Jakarta, Delegasi dari Malaysia. Sayang sekali delegasi dari Brunei Darussalam tidak bisa hadir karena bertepatan dengan perayaan hari nasionalnya. Melalui Zefri Ariff Bruneiti hanya sempat mengirim naskahnya, Dari Rakis ke Maka Sastera Brunei Menyusur jalur Buanari.
Ada lebih dari 14 nara sumber hadir memaparkan makalahnya. Sambutan audiens juga sangat bagus sampai berebut kesempatan untuk bertanya sampai session terakhir. Peserta juga masih bertahan sampai malam penutupan. Hal yang jarang untuk sebuah perhelatan sastra.
Sekilas tentang Materi Diskusi
Berbagai judul makalah dari problem sastra sampai muatan sastra local. Kepala Dinas Pendidikan Kaltim, Musyahrim menyampaikan makalah tentang Peran kunci sastra dalam dunia pendidikan. Menurutnya, sastra memiliki peran penting dalam pembentukan karakter dan budaya bangsa. Jaya Ramba, penulis produktif dari Miri, Malaysia memaparkan Penulis bukan Melayu di Sarawak dalam Sastra 1 Malaysia. Ibnu HS asal Kalteng memaparkan Menjaga Sastra Anak. Dr. Surya Sili, Ketua UP Fakultas Ilmu Budaya dan Kepala Balai bahasa Unmul memaparkan strategi jitu memasyarakatkan buku. Silli mengutip sajak Taufik Ismail yang sangat prihatin terhadap rendahnya budaya baca. H Encik Othman Mahali dari Labuhan, Malaysia memaparkan Perkembangan penulisan dan cabaran penulis-penulis Labuhan. Ahmadun Yosi Herfanda, mantan redaktur budaya Republika dan Ketua Komite Sastra DKJ, Menakar Sumbangan Kalimantan pada Perkembangan Sastra Indonesia.
Pada hari kedua, Abang Patdeli bin Abang Muhi dari Serawak, Malaysia. Pengurus Dewan Bahasa dan Pustaka Malaysia Cawangan Serawak membawakan makalah Perkembangan Sastera Kebangsaan di Serawak. Dia bercerita tentang upaya yang sangat bagus Dewan Bahasa dalam memajukan sastra di Serawak. Ada penerbitan 10-12 buku sastra Serawak tiap tahun. Tiap tahun ada lomba sastra, lomba kreativitas untuk guru, menerbitkan cerita rakyat, cerita anak-anak untuk sekolas. Juga memuat karya sastra pada Media Utusan Serawak dan Utusan Borneo. Tadjudin Nurganie asal Kalsel memaparkan tentang Kedudukan sastra modern Banjar di tengah-tengah sastra Indonesia. Problem sastra Banjar adalah pada pengarang, pembaca, media dan kritik sastra.
Prof. Dr. Chairil Effendy, peneliti budaya, mantan anggota MPR dan mantan Rektor Universitas Tanjungpura Pontianak memaparkan tentang sastra Modern di Kalimantan Barat, Dahulu dan Kini. Mizar Bazarvio, penulis dan aktivis sastra asal Kalbar berbicara tentang Peran penting organisasi sastra membangun kreativitas dan inovasi sastra di Kalimantan Barat.
Marko Mahin, dosen di STT-GKE, Banjarmasin dan peraih gelar Magister of Art dari Universitas Leiden, Belanda memaparkan tentang Panaturan, sastra suci Dayak Ngaju. Jamal T Suryanata, aktivis sastra asal Kalsel membahas kebanggaan sastra sebagai kebanggaan daerah, sumber kreativitas dan inovasi penciptaan. Lokalitas sastra dalam sastra Indonesia modern adalah sesuatu yang harus diperjuangkan jika kita memang berharap banyak untuk menghasilkan karya-karya yang benar-benar berkarakter Indonesia. Pemanfaat daerah sebagai sumber kreativitas dan inovasi penciptaan dalam sastra Indonesia akan menimbulkan, kebanggan sastra merupakan kebanggan daerah.
Korrie Layun Rampan, Sastrawan senior Indonesia asal Kaltim tentang Kalimatan Timur dalam Sastra Indonesia. Penulisan sastra Kaltim relative lebih muda dari sastra Indonesia. Dimulai pada tahun 1940-an. Ada banyak cara untuk meningkatkan kualitas penulisan sastra daerah yaitu menerbitkan majalah sastra sebagai wadah karya para sastrawan, dibentuk badan penerbit yang professional, memberi penghargaan dari pemerintah daerah, ada program pelatihan penulisan kreatif, pemerintah daerah mau menerbitkan buku-buku sastra, dan meciptakan kegiatan sastra yang dapat merangsang kreativitas berkarya.
Rekomendasi Dialog Borneo
Rekomendasi dibacakan oleh salah seorang nara sumber pada penutupan Dialog Borneo di Lamin Etam pada 15 Juli 2011 di depan hadirin dan Gubernur Kaltim. Ada 6 rekomendasi, yaitu Menetapkan Labuhan, Malaysia sebagai tuan rumah Dialog Borneo XII pada tahun 2013 dan Serawak sebagai tuan rumah cadangan, Memperluas cakupan peserta Dialog Borneo-Kalimantan dengan mengundang peserta dari Mindanau dan Indonesia Timur, Memberikan hadiah Anugerah Sastra Borneo Kalimantan secara berkala, menerbitkan antologi karya bersama pada setiap penyelenggara Dialog Borneo, mengupayakan terbitnya media publikasi bersama baik berbentuk cetak maupun internet, Menentukan secretariat bersama yaitu Dewan Bahasa dan Pustaka Cawangan Sarawak untuk wilayah Malaysia Timur dan Brunei dan Rumah Sastra Korrie Layun Rampan untuk wilayah Kalimantan.

Selasa, 08 Februari 2011

My Children and School




Di suatu pagi jam 6 lebih di rumah Gladiol 6, anak2 telah sibuk mempersiapkan diri untuk menjemput masa depannya dengan bersekolah. Sebelum berangkat kantor saya ambil kamera dan saya jepret mereka bertiga. Dialah semangatku yang saya simpan selalu di saku di awal waktu

Teruslah sekolah anakku sampai tinggi sekali. Saya ingat kata-kata guru Matematika SMA, sekolah salah satu jalan termudah meraih sukses. Seperti asal katanya dari bahasa Yunani, yang artinya tempat yang menyenangkan. Buatlah sekolahmu menjadi tempat yang menyenangkan. Seperti juga bapakmu menempuh dulu lebih dari 35 tahun lalu

Raihlah matahari, raihlah bulan dan bintang melalui buku dan nasihat guru. Doa bapak menyertainya dan salam untuk gurumu. Sampaikan pada gurumu, buatlah sekolah menjadi bermutu dan tempat yang menyenangkan selalu.

Senin, 07 Februari 2011

Baca Puisi Pergelaran Sastra di Yogya




Memenuhi undangan Panitia Penerima Muktamar Muhammadiyah ke46 (Satu Abad Muhammadiyah) Sunaryo Broto (SB) bersama sejumlah tokoh masyarakat, pejabat pemerintah, guru, peminat sastra dan sastrawan diundang untuk berpartisipasi dengan mengisi acara pembacaan puisi dalam acara 100 + 46 jam Pergelaran Sastra untuk Syiar Seabad Muhammadiyah dan memeriahkan muktamar yang berlangsung dari tanggal 2 Juli – 8 Juli 2010 di Kampus Universitas Ahmad Dahlan (UAD), Jl. Pramuka 42 Yogyakarta.

SB membaca puisi pada 7 Juli jam 20.00 di Aula Kampus UAD bersama dengan para sastrawan yang telah eksis, antara lain Prof. Dr. Rahmat Djoko Pradopo (dosen sastra UGM dan pengamat sastra), Mustofa W Hasyim (Sastrawan dan Redaktur pelaksana Majalah Suara Muhammadiyah), Ahmadun Yosi Herfanda (Harian Republika dan DKJ), Isbedy Stiawan ZS (Sastrawan Lampung) dll. Tampil juga pagelaran sastra lain, musikalisasi puisi, kesenian daerah, mocopat dll.

Puisi yang dibaca diambilkan dari buku terbaru kumpulan puisi Tentang Waktu. Beberapa puisi antara lain Tentang Waktu, Kusunting kau di 17 Agustus, Merantau, Haruskah, Pertemuan di Doha, Di Makam Tuanku Imam Bonjol Manado, Di Benteng Rotterdam Makasar.

SB bertemu dengan Mas Jabrohim yang mengatur kegiatan ini dan Hazwan Iskandar Jaya yang juga anggota KPUD Sleman. Dalam acara tersebut, SB diberi kenangan dari panitia 4 buku yang barusan terbit, Membumikan gerakan ilmu dan Muhammadiyah (Pengantar Prof. Dr. Syafii Maarif, editor Jabrohim), Sajak rindu bagi Rosul (Prasasti 100+46jam Pergelaran Sastra Matahari Menembus Kalbu, editor Jabrohim), Nyanyian Kebangkitan (Kumpulan puisi dari Ahmadun, Jabrohim, Mustofa W Hasyim, Suminto A Sayuti dll) dan Muhammadiyah gerakan kebudayaan yang berkemajuan (Pengarang Jabrohim) (sb)

Minggu, 06 Februari 2011

Launching dan Diskusi Buku Studio Kata




Komunitas Sastra Studio Kata mengadakan acara lunching dan diskusi buku Kumpulan Puisi Tentang Waktu dan Kumpulan Cerpen Pertemuan di Kebun Raya karya Sunaryo Broto (SB) di Gedung Koperasi PKT (Pupuk Kaltim) Bontang tanggal 11 Desember 2010. Sunaryo Broto adalah karyawan PKT dan aktif di kegiatan Studio Kata dan Club Buku (CB) 33. Buku yang diluncurkan adalah karyanya ke 3 dan 4 setelah bermukim di Bontang selama 18 tahun. Sebagai pembahas buku puisi adalah Abdul Hakim, guru bahasa Indonesia SMP YPK dan penggiat sastra Studio Kata dan pembahas buku cerpen adalah Manik Priandani, karyawan PKT yang juga aktif di CB 33. Hadir sekitar 40-an orang yang terdiri dari guru bahasa Indonesia dan murid SMA di Bontang dan sebagian aktivis sastra di Bontang, di antaranya Maya Wulan dan suaminya, Alang Rizal, Untung Erha dan istrinya Shantined, Kusnul Nurmanto, Mudjib Utomo dll. Acara tersebut diselingi baca puisi oleh Sasongko, alumni SMA YPK dan karyawan PKT yang membaca puisi dari buku kumpulan puisi.
Acara launching buku bersamaan dengan acara PKBL (Progra Kemitraan dan Bina Lingkungan) Pupuk Kaltim Expo yang menjadikan audiens bertambah dari pengunjung pameran. Jadi Pengunjung pameran usaha mitra binaan bisa juga mendengarkan diskusi sambil melihat pameran. Acara yang dipandu oleh guru dan sarjana psikologi, Truly Trisna ini juga disiarkan secara life di stasiun TV local, PKTV. Acara diawali dengan penyerahan buku dari Studio Kata yang diwakili oleh salah seorang pendirinya, Tri wahyuni dan diserahkan oleh SB ke Manik Priandani (CB33) dan Wakil guru dan murid.
Diawali dengan perkenalan Studi Kata oleh koordinatornya, Abdul Hakim. Studio Kata adalah wadah tempat berkumpulnya kegiatan sastra di Bontang. Berdiri 3 Mei 2009 yang diresmikan oleh cerpenis nasional, Hamsad Rangkuti. Sunaryo Broto memaparkan beberapa hal tentang buku dan menulis. Intinya adalah mengajak kebaikan. Medianya bisa melalui cerita pendek atau puisi dalam buku. Buku usianya bisa lebih lama dari penulisnya dan semoga ada gunanya untuk saling menyeru kebaikan. Dan apa yang ditulis dalam bukunya dikatakannya hanya fiksi semata. Meskipun untuk memudahkan penulisan setting bisa berdasarkan pengalaman nyata. Dan paling gampang dilakukan adalah bersetting pengalaman penulisnya sendiri. Berapa prosen kadarnya, itu rahasia penulis.
Abdul Hakim memberi judul ulasannya, Mengeja Waktu dengan Kata (Agar kemarin masih milik hari ini). Dia mengupas dari puisi di awal buku yang dibuat tahun 1992 berjudul Waktu Luang sampai sampai puisi yang dibuat tahun 2009, Kabar Duka. Banyak kisah perjalanan yang buat sebagian besar yang lain adalah ritual biasa dan sederhana tetapi di tangan penulis, kesederhanaan itu menjadi indah dan bermakna. Penulis seperti melakukan sesuatu agar kisah kemarin masih tetap menjadi milik hari ini. Bukan hanya milik sang perangkai tetapi mampu menjembatani pembaca untuk ikut serta berkontemplasi maupun mengembara melihat berbagai tempat, peristiwa, dan berbagai fenomena yang sebelumnya tak mampu dengan utuh dijamahnya sendiri.
Pembahas kedua, Manik Priandani setuju dengan komentator Amien Wangsitalaja bahwa cerpen SB adalah cersei, cerita esai atau cerdis, cerita mengajak diskusi. Manik, sebagai pembaca buku yang rajin menyoroti sebagian tulisan SB terpengaruh oleh novelis, Pramudya. Bahkan ada sepenggal dialog yang gayanya Pram banget di cerpen, Dicari suami yang dapat mengusir tikus. Sampai detail Manik membahas satu persatu cerpen. Dan di akhir, ibu satu anak yang aktif di berbagai kegiatan, mengatakan bahwa buku ini bagus dan layak dibaca. Walau ada beberapa tulisan yang memerlukan kesabaran untuk menyimak dan konsentrasi dalam membaca agar mengerti isi cerita yang dituturkan. Di akhir session dilakukan diskusi tanya jawab seputar buku dan menulis. Diharapkan di masa mendatang terbit lagi buku untuk meramaikan kegiatan sastra di Bontang. (*/sb)