Rabu, 09 September 2009

Dari Seminar Nasional Kebahasaan dan Kesastraan di Samarinda

Undangan ini dibawa oleh teman saya yang penggagas Studio Kata, Tri Wahyuni untuk menghadiri Seminar Nasional Sastra dari Balai Bahasa Kaltim. Dari Bontang yang diundang saya dan Tri Wahyuni. Ini adalah undangan kedua dari instansi yang berhubungan dengan sastra di Kaltim selama saya bermukim di Bontang. Dulu saya pernah mendapat undangan dari Dewan Kesenian Kaltim melalui ketuanya A Rizani Asnawi untuk menghadiri diskusi sastra di Samarinda sekitar tahun 2001 tetapi karena kesibukan sebagai karyawan belum sempat hadir.

 

Kali ini saya usahakan hadir karena memang saya ingin mengenal para aktivis sastra di Kaltim. Sayapun menulis paper tentang peran media. Paper ini sebenarnya artikel saya yang menyoroti peran media yang saya kirimkan ke Tribun Kaltim tetapi tidak dimuatnya. Saya edit sedikit dan saya kirim saja ke panitia. Tak dinyana ternyata paper tersebut diterima untuk pemakalah pembanding. Ya sudah menikmati saja diskusi sastra di Samarinda.

 

Seminar sastra bertempat di ruang Serba Guna Kantor Gubernur Kaltim, Jl. Gadjah Mada No1, Samarinda. Awalnya saya prediksi yang hadir hanya kelompok kecil karena biasanya seminar sastra tidak terlalu menarik minat publik. Ternyata yang hadir banyak sekali. Ketua Panitia yang juga ketua Balai Bahasa, Pardi pada saat memberi sambutan menyebut jumlah 470 undangan yang datang. Kalau tidak ditutup maka bisa 1000-an, katanya. Saya datang saat acara akan dimulai dan langsung dituntun panitia duduk di depan. Yang hadir guru, seniman, budayawan dan kebanyakan alumni fakultas sastra.

 

Acara diawali dengan pentas musikalisasi puisinya Korrie Layun Rampan oleh para siswa SMA 2 Samarinda. Seminar dibuka oleh asisten Gubernur Kaltim, Yansen. Setelah seremonial pidato pembukaan dilakukan pembagian buku yang baru saja diterbitkan Balai Bahasa, yaitu Buku Tata Bahasa Kutai, Kamus Bahasa Bauna-Indonesia, Ikhtisar Sastra Indonesia di Kalimantan Timur dan Biografi Pengarang kalimantan Timur. Saya sebagai salah satu wakil dinatara banyak wakil yang menerima bingkisan buku tersebut.

 

Pembicara pertama Dr. Suroso, dosen Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) dengan gaya akrab dan enaknya mengawali seminar. Judul makalahnya Budaya Baca Tulis dan Apresiasi Bahasa dan Sastra Indonesia di Sekolah. Dia membuka fakta yang telah dipublikasikan oleh Taufik Ismail, kenapa minat baca rendah, buku sastra tak berkembang. Dia ingin memperbaikinya dari sekolah supaya para murid SMA seperti waktu zaman Belanda, melalap 25-an judul buku novel dalam setahun. Guru bahasa harus mempunyai terobosan supaya sastra disukai murinnya. Guru bahasa harus juga sebagai penulis puisi, cerpen, novel sehingga dapat memberi contoh tentang karya sastra. Bukan sekedar berteori sastra. Pembicara kedua Dr. Surya Silli dari Universitas Mulawarman dengan makalah Penggunaan Bahan Ajar & Kegiatan Otentik dalam Pengajaran Bahasa Asing. Ketua Balai Bahasa, Pardi Suratno mengetengahkan pengalamannya dalam makalah Bengkel Sastra Media Alternatif dalam Mendekatkan Siswa Terhadap Sastra.

 

Pada sesion kedua, Ahmad Ridhani (Unmul) dengan makalah Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia, Sunaryo Broto (Pupuk Kaltim Bontang) dalam Peran Media dalam Mengembangkan sastra di Kaltim, Yudianti Herawati (Kantor Bahasa Kaltim) dengan makalah Sastra Lokal dan Pengajaran Sastra dan Winarti (Kantor Bahasa Kaltim) dengan makalah Surat Kabar sebagai Sarana Pembelajaran Bahasa.

Selasa, 08 September 2009

Peran Media dalam Menumbuhkan Kantong Sastra di Kaltim*)

Media mempunyai peranan penting dalam apresiasi karya sastra karena melalui media karya sastra dapat dinikmati publik, bisa diapresiasi publik dan bisa dikritik publik juga. Hal ini akan menimbulkan ”kedinamisan” dalam diskusi karya sastra. Bagaimana hal ini bisa terjadi tanpa adanya media?

 

Kondisi Media di Kaltim

Setelah bermukim sekitar 17 tahun di Bontang, Kaltim, saya merasakan iklim yang tidak kondusif dalam berkarya sastra karena minimnya dukungan media lokal. Hampir tidak ada –kalau boleh dikatakan tidak ada- rubrik seni dan budaya di koran lokal Kaltim.

 

Hal yang membuat saya merasa “tidak nyaman” dalam membaca koran daerah adalah sangat terasanya tidak ada kapling untuk lembaran sastra dan budaya secara kontinyu. Untuk pemuatan essay sastra, berita budaya atau cerpen masih kadang ada tetapi tidak kontinyu. Cerpen dicampur dengan artikel lainnya bahkan bercampur dengan iklan.

 

Sebelumnya saya mengikuti koran daerah di Yogya dan Jawa Tengah yang secara rutin menyediakan kaplingnya untuk lembaran sastra dan budaya karena saya bermukim di daerah tersebut. Hal ini dapat menumbuhkan kantong sastra di daerah. Sudah sangat dikenal di Semarang, Yogya, Tegal dengan dengan Komunitas Sastra Negeri Poci dan daerah sekitarnya dkenal sebagai kantong sastra. Beda sekali dengan di Kaltim yang belum tumbuh kantong sastranya meski saya yakin, potensi ke arah itu sangat besar. Hanya tak ada medianya.

 

Sewaktu Rendra ke Kaltim dalam pentas Rambateraterata sekitar tahun 2001, saya menulis di Kaltim Post yang berjudul Rendra dan Perkembangan Sastra Kaltim. Saat itu saya menyoroti peran media massa yang tak memberikan ruang pada perkembangan sastra Kaltim, bahkan saya menyontohkan kondisi Jogja dan Jawa Tengah sebagai salah satu kantong sastra daerah bisa berkembang sangat baik berkat dukungan sekian media massanya dengan menyediakan lembar sastra dan budaya.

 

Sebenarnya perhatian koran daerah terhadap karya sastra sudah ada tetapi belum banyak. Sekedar contoh untuk menyebut koran 2 daerah dengan oplah cukup besar, Kaltim Post (KP) dan Tribun Kaltim (TK). KP pernah memuat liputan pentasnya Rendra Rambateraterata sekitar tahun 2001. Belum lama TK memuat tulisan 4 seri dari Tribun Sastra Community pada tanggal 17-20 Juni 2009. Tulisan berjudul Menumbuhkan dunia sastra dan seni di Kaltim membahas tentang upaya untuk menumbuhkan dunia sastra dan seni di Kaltim.

 

Sebelumnya sangat jarang ada pembahasan sastra sampai diadakan diskusi dan ditulis berseri di media massa. Memang ada satu dua tulisan artikel tetapi hanya seperti lewat saja. Tanpa tanggapan dari pembaca lain. Hal ini tidak saya jumpai sewaktu ada event kunjungan beberapa penggiat sastra nasional ke Kaltim. Nama-nama sastrawan yang pernah ke Kaltim, diantaranya Emha Ainun Nadjib, Rendra, Hamzad Rangkuti, Taufik Ismail dll sampai penulis yang novel Ayat-ayat Cinta dan Ketika Cinta Bertasbih yang baru ngetop, Habiburrahman El-Shirazi. Dengan  kedatangan para sastrawan tersebut, di media massa local hampir tak ada jejaknya. Yang ada hanya berita kecil dan sepertinya tidak penting. Tidak ada halaman khusus –misalnya pada hari Minggu- yang berisi lembaran sastra dan kebudayaan seperti media masa nasional dan beberapa media massa local yang peduli. Atau halaman khusus wawancara dengan para sastrawan tersebut.

 

Emha Ainun Nadjib baca puisi di Samarinda dan Bontang sekitar tahun 1995 dan Rendra mementaskan Rambateraterata di gedung Koperasi Pupuk Kaltim sekitar tahun 2001 saja hampir tak banyak media local yang memuat beritanya. Terlebih resensinya. Teatre Grandrik pernah beberapa kali pentas di Bontang tetapi tak banyak yang tahu. Leo Christy pernah juga pentas di Bontang dengan penonton yang sangat sedikit dan tak ada beritanya di harian lokal. Hamzad Rangkuti pada Mei 2009 ke Bontang dengan diskusi kecil tentang sastra dan menulis, tanggapan media datar-datar saja. Hanya ada berita kecil sekali saja. Jangan berharap ada resensinya atau kolom apresiasinya. Belum berderet pameran lukisan atau pertunjukan seni lainnya. Pertunjukan Teatre Timur, Teatre Yupa dan kiprah Untung Erha sudah banyak dalam aktivitas teatre tetapi tak banyak yang mengapresiasi dengan publikasi. Dengan adanya nama nasional saja kurang dapat tanggapan dari media terlebih kalau pelakunya semuanya local.

 

Kantong Sastra di Kaltim

Yang dimaksud dengan kantong sastra di sini adalah semacam komunitas yang peduli terhadap karya sastra. Di situ ada kegiatan berkarya, berdiskusi tentang sastra. Sekedar informasi, sebenarnya ada beberapa komunitas pecinta sastra yang sudah tumbuh meski kehidupannya juga belum menggembirakan. Di Samarinda, ada Jaring Penulis Kaltim, Sanggar Sastra Remaja Indonesia (SSRI) dengan salah satu penggiatnya oleh Amien Wangsitalaja, di Bontang, baru tumbuh Studio Kata yang dimotori Abdul Hakim dan Tri Wahyuni dan juga ada Club Buku CB33 dan KKPKT (Korps Karyawan Pupuk Kaltim) di komunitas Pupuk Kaltim dengan anggotanya diantaranya Sunaryo Broto, Ezrinal Azis dan Manik Priandani yang belum lama mengundang cerpenis Hamzad Rangkuti. Di Tenggarong ada Kosa Kata. Tak lupa juga adanya kegiatan Forum Lingkar Pena Kaltim yang dimotori Muthi Masfufah.

 

Di dunia maya, bila kita mencari di Google maka ada beberapa blog tentang sastra Kaltim, diantaranya Jurnal Kembang Kemuning, Panjipatah, Penyair Nusantara Kaltim, Arungnala miliknya cerpenis Nala Arung.

 

Sekitar tahun 90-an ada tradisi Sastra Purnama yang mengadakan kegiatan sastra di daerah-daerah setiap tahun yang digalang oleh Hamdani. Dalam salah satu kegiatannya, Bontang pernah menjadi tuan rumah. Acaranya diskusi sastra, baca puisi. Di situ ada nama Hamdani, Mugni Baharuddin dll. Juga nama-nama lain, diantaranya Jumrie Obeng, Tatang Dino Hero, Herman A Salam, Safrudin Pernyata, Rizani Asnawi

 

Tetapi karena kurangnya dukungan media sehingga kita sulit mencari dan membaca karya-karya mereka. Beberapa penulis Kaltim yang terkenalpun sulit mencari jejaknya. Padahal, jelas akan banyak lagi penulis yang dikenal bila karya-karyanya dimuat di media massa.

 

Pentingnya Dukungan Media

Kalau masalah seberapa banyak dukungan masyarakat akan pentingnya kegiatan sastra, jelas tak sebanyak dunia intertainment tetapi jelas ada. Di beberapa tempat memang komunitas ini tidak terlalu meriah kegiatannya tetapi tetap eksis karena kecintaan pelakunya. Media sastra tetap masih dibutuhkan dalam menjawab kebutuhan, seperti beberapa contoh. Novel Namaku Taweraut dari Ani Sekarningsih adalah upaya untuk menjelaskan kondisi anthropologi masyarakat Suku Asmat di Papua melalui media sastra. Novel Ayat-Ayat Cinta dan Ketika Cinta Bertasbih dari Habiburrahman juga upaya memasyarakatkan kegiatan beragama melalui media sastra. Novel Para Priyayinya Umar Kayam adalah gambaran sejarah tentang kondisi masyarakat pada saat konflik politik sekitar tahun 1965 melalui media sastra. Ada juga istilah jurnalisme sastrawi yang diusung Majalah Tempo. Sastra tetap masih dibutuhkan.

 

Saya yakin meskipun belum ada ruang di media massa lokal, para penikmat seni ini tetap menulis sastra di file pribadinya. Beberapa penerbitan lokal juga menerbitan beberapa karya yang berbau sastra. Sekedar menyebut contoh, Kumpulan Cerpen Bingkisan Petir, Kumpulan Cerpen Nala Arung Balada saripin dan KD, Kumpulan Puisi Balada Manusia Indistri dll. Coba klik di Google, banyak tulisan yang berbau sastra dipublikasikan melalui blog pribadi maupun komunitas.

 

Dengan adanya dukungan media ini sangat penting. Karena dukungan ini bisa menumbuhkan iklim bersastra. Katakanlah ada satu ruang lembaran sastra pada edisi Minggu. Biasanya di situ ada cerpen, puisi dan essay tentang sastra. Awalnya bisa saja tak banyak yang mengisi tetapi bila terbit terus dan khalayak mulai tahu kalau ada ruang untuk memuat karya maka akan merangsang mereka untuk menulis. Di Kaltim juga ada nama-nama sastrawan yang sudah terbiasa menulis, antara lain Korrie Layun Rampan. Ada Amien Wangsitalaja, Shantined, Herman A Salam dll yang bisa menjadi penggiat sastra.

 

Atau dengan cara networking dan bekerja sama dengan para penggiat sastra di komunitas sastra di beberapa daerah di Kaltim pasokan bahan juga bisa diatasi. Coba hitung berapa komunitas atau kantong sastra di Balikpapan, Samarinda, Bontang, Tenggarong, bila satu komunitas sastra berpartisipasi dalam satu edisi sudah bisa mencover edisi awal lembaran sastra dan kebudayaan. Bola ini akan bergulir. Terlebih bila ada apresiasi atau resensi seperti Sutardji Calzoum Bachrie yang mengasuh lembaran sastra di Kompas atau semacam Umbu Randu Paranggi dengan Persada Study Club di Yogya yang telah melahirkan banyak sastrawan.

 

Mengutip Kompas.com, 28 Agustus 2008 memuat laporan dari Samarinda. Pengelola media cetak di Kalimantan Timur didorong untuk melestarikan budaya sastra melalui rubrik khusus. Sebab, sampai sekarang belum ada yang menyediakan halaman khusus untuk sastra atau bahasa antara lain puisi, cerita pendek, dan fiksi.

"Kami berharap tiap minggu ada rubrik khusus itu," kata Kepala Kantor Bahasa Kaltim Pardi Suratno di Samarinda. Bahkan lembaganya bersedia memberi honor bagi penulis yang karyanya termuat di media cetak. Menurutnya, rubrik sastra sangat berguna untuk memasyarakatkan pemakaian bahasa Indonesia. Di samping itu juga memacu munculnya generasi baru penulis dan mendiskusikan persoalan berbahasa yang baik dan benar.

Kerja Sama Antar Institusi atau penerbitan sendiri

Kerja sama antar institusi? Why not? Antar institusi yang peduli pada sastra sebaiknya bekerja sama. Bisa Balai Bahasa Kaltim, komunitas sastra dan media. Masing-masing mengambil perannya sendiri.  Penerbitan atau media massa menyediakan halamannya untuk lebar sastra dan budaya, komunitas sastra mengisi halaman yang telah disediakan dan Kantor Bahasa bisa menyediakan support fasilitas dan dana –kalau ada. Dengan kerja sama antara institusi ini kesinambungan dan karya sastra dapat lebih diapresiasi masyarakat luas. Bila sudah rutin ada di media dan masyarakatnya bisa menikmati maka akan merangsang generasi berikutnya untuk melahirkan karya sastra.

Dengan dukungan media massa local dapat memungkinkan apresiasi sastra lebih luas. Bagi Koran daerah, tinggal membuka lembaran sastra budaya dan mempersilakan pembaca untuk berpartisipasi. Syukur menyediakan apresiasinya.

Atau menerbitkan karya sastra dalam bentuk buku. Tetapi hal ini harus ditunjang dengan distribusi yang baik supaya dibaca publik. Penerbitan buku bila tak ada yang membaca juga tak terlalu berarti. Hanya menjadi tempat dokumentasi. Bila ada dukungan media maka penerbitan buku bisa dipublikasikan dalam resensi buku melalui media.

Semoga upaya menumbuhkan kantong sastra di Kaltim dapat cepat terwujud dengan dukungan media.

*) Disampaikan dalam Seminar Nasional Kebahasaan dan Kesastraan 2009, Samarinda 6 Agustus 2009

**) Penulis adalah karyawan Pupuk Kaltim, penikmat sastra, aktif di komunitas Club Buku CB33 dan Studio Kata, Bontang. Alamat rumah Jl. Gladiol No6 PC VI Komplek Pupuk Kaltim, Bontang. Email: sbroto@pupukkaltim.com, HP 0811551451, situs: sbroto.multiply.com

Kamis, 03 September 2009

Seminar Nasional Kebahasaan dan Kesastraan 2009




Seminar Sastra Nasional dan Kebahasaan bertempat di ruang Serba Guna Kantor Gubernur Kaltim, Jl. Gadjah Mada No1, Samarinda. Diselenggarakan oleh Balai Bahasa Kaltim. Dihadiri 470 undangan terdiri dari para guru, sastrawan, pengamat, budayawan dll.

Dalam sesion ini saya menyampaikan makalah Peran Media dalam mengembangan sastra Kaltim. Media massa belum banyak berperan dalam mempublikasikan karya sastra.

Kamis, 13 November 2008

Pameran Lukisan Dialog Interlokus


Pameran Lukisan di Koperasi

Dialog Interlokus adalah pameran lukisan karya pilihan koleksi Galeri Nasional Indonesia dan Pelukis Kalimantan Timur. Pameran bertempat di Gedung Bhayangkari, Jl. Jendral Sudirman dari tanggal 10-15 Nopember 2008. Pameran dibuka pada Senin sore oleh Walikota Balikpapan, H Imdaad Hamid SE. Sebagai kurator lukisan adalah Dr. M Agus Burhan (Kurator GNI), Surya Darma (Pelukis, Balikpapan) dan Ahmad Gani (Pelukis, Balikpapan).

Rabu, 12 November 2008

Catatan Juri Konvensi

Menjadi juri konvensi mutu internal bila dinikmati asyik juga. Kami menjadi tahu banyak proses bisnis di banyak unit kerja. Yang penting juga kami menjadi tahu dan kenal pada beberapa pelaku peduli mutu di banyak unit kerja. Disamping itu bila kami wawancara atau mengunjungi lapangan untuk cross check data banyak hal menarik yang kami jumpai. Bagaimana mereka berusaha mencari jalan keluar dari permasalahan yang ada dengan resource yang minim. Bagaimana mereka mengelola SDM (sumber daya manusia), bagaimana mereka survive, bagaimana mereka belajar dan mengatur waktu. Ini menarik, terlebih saya yang bekerja sebagai pengelola SDM dapat mengetahui banyak hal dari mata kepala sendiri. Seperti anggota DPR yang menyerap aspirasi rakyatnya atau pejabat yang turun ke lapangan. Kami menjadi lebih paham dan mengerti keunikan unit kerja. Ternyata setiap unit kerja itu mempunyai keunikan tersendiri disamping memang mempunyai proses bisnis tersendiri.

 

Begitu juga yang terjadi pada juri konvensi internal ke 20 pada 5-6 Nopember 2008. Ini adalah tugas sebagai juri untuk kedua kali. Dari jumlah peserta memang berkurang dan ini membuat kami sedikit lebih santai dalam membaca makalah. Kalau dulu bisa sampai jam satu malam untuk memelototi makalah, sekarang bisa berkurang karena jumlah yang lebih sedikit. Biasanya makalah dibagi sudah pada last minuite dan harus kami pelajari lalu ada saatnya melakukan klarifikasi di lapangan dengan anggota gugus.

 

Pada saat tampil pada session presentasi pun tak kalah menarik. Mereka unjuk karya sekitar 20 menit dan tampil bergiliran. Mereka menampilkan hal terbaik yang dimilikinya. Ada yang membuat kreasi pada pembukaannya, ada yel-yel, ada yang membuat semacam video klipnya dengan aktor mereka sendiri dan latar belakang pabrik, ada yang cukup percaya diri tampil sendirian sehingga dia lupa kalau ada temannya. Tujuannya hanya ingin tampil terbaik. Betapa menyenangkan bukan? Saya melihat seorang aktor, sutradara, pengatur komposisi, kameraman, design grafis, pemikir, analis, dan jangan lupa mereka juga karyawan, operator yang mempunyai tanggung jawab pekerjaan. Mereka melakukan hal tersebut di sela-sela waktu kerjanya. Mereka harus berbagi waktu dengan keluarganya di rumah. Mereka harus mencuri waktu istirahatnya sendiri. Atau memacu otak kirinya untuk peran kreativitas setelah otak kanannya dipakai untuk mengerjakan tugas sehari-hari. Mereka merangkap dari seorang pelaku inovasi, penulis, dokumentator sekaligus analis ekonomi karena ada analisa cost benefitnya yang harus ditampilkan. Mereka harus belajar oportunity loss. Mereka bukan hanya aktif di satu gugus tetapi ada yang merangkap di beberapa gugus. Ada juga yang merangkap sebagai panitia dllnya.

 

Seusai presentasi, perdebatan juri pun tak kalah menarik. Padahal sebelumnya ada proses docking penilaian sebelum presentasi dan hanya menunggu nilai presentasi. Artinya para juri sudah rapat-rapat di hari sebelumnya untuk kesepakatan penilaian. Proses docking hanya untuk mempermudah dan mengurangi waktu berdebat karena biasanya setelah presentasi waktunya pendek dan ditunggu pengumumannya saat penutupan. Tetapi perubahan pertimbangan bisa saja muncul setelah melihat presentasimeski sebenarnya tak dikehendaki. Presentasi yang ditampilkan jauh lebih bagus pada saat penilaian di lapangan. Tak kalah menariknya ada juga dewan telaahnya -seperti dewan syuronya partai- meski perannya kadang dipertanyakan.

 

Isyu perdebatan juri biasanya mencakup 3 hal, yaitu kontens, metodologi dan benefit. Tiga hal ini yang selalu menjadi topik menarik untuk bahan perdebatan. Ada yang kontennya bagus tetapi metodologinya kacau. Ada juga yang temanya sederhana tetapi tampilannya menarik, lengkap dengan data-data yang ditampilkan. Ada juga yang antara kontens dan metodologinya sama-sama biasa saja. Juga benefitnya. Hal yang terakhir ini biasanya dilakukan oleh gugus pemula yang asal tampil saja. Biasanya juri sangat menyayangkan bila ada ide yang bagus tetapi kalah hanya karena metodologinya tidak kena. Sayang sekali. Dan juri ingin membantunya dengan alasan “pembinaan”.

 

Begitulah yang terjadi. Begitulah sebuah konvensi mutu ditampilkan. Cukup banyak effort yang telah dikeluarkan. Cukup banyak kesibukan dijadwalkan dan banyak pihak telah mengapresiasikannya. Saya yakin semua tak akan sia-sia. Dalam session kunjungan di lapangan, ada salah seorang peserta mengatakan, rasanya sama saja karier karyawan yang ikut konvensi dengan yang tidak. Penilaian manajemen juga tetap saja. Mereka sepertinya menyindir terhadap sistem penilaian karya karena memang belum terakomodir di sistem penilaian. Tetapi tetap saya bilang, tetap ada bedanya antara karyawan yang aktif dalam gugus mutu dan tidak. Minimal kita sudah menebar energi posistif dengan melakukan inovasi dan energi positif tersebut akan kembali kepada kita sendiri karena hukum tarik menarik semesta alam seperti yang diceritakan dalam buku Secret. Selain itu juga banyak ketrampilan yang bisa dipelajari dari persiapan sampai tampil presentasi di konvensi. Juga networking dan melatih public speaking. Ada banyak tricken down effect dalam bentuk lain-lain. Percayalah! Tak ada yang sia-sia. Waktu diisi dengan konvensi atau tidak tetap saja berlalu, kenapa tidak diisi saja kegiatan yang positif? (Sunaryo Broto)

Suatu Saat di Satu Nama

Hampir tiap hari sebagai pengelola pendidikan dan pelatihan di perusahaan saya menandatangani surat keberangkatan karyawan untuk melaksanakan pelatihan di luar kota. Pelatihan keryawan tersebut diusulkan oleh unit kerjanya dan kami review terhadap kebutuhan kompetensi unit kerjanya. Ada sekitar 850-an karyawan yang menjalani pelatihan di luar Bontang setiap tahun.

 

Sampai bulan Oktober saya belum juga menemukan jenis dan waktu yang tepat untuk pelatihan saya sendiri. Sebenarnya saya ingin pelatihan tentang audit SDM atau mendalami performance manajemen tetapi sampai sekarang belum ketemu jadwal yang sesuai. Saya juga ingin sekali-kali pelatihan di Yogyakarta atau Bandung supaya merasakan bagaimana “menikmati” pelatihan di kota tersebut. Beberapa kali pernah melihat skedul pelatihan di kota tersebut tetapi bio data instruktur atau lembaganya belum dapat menyakinkan atasan saya untuk menyetujuinya. Kebanyakan pelatihan tentang SDM diselenggarakan di Jakarta dan terus terang saya sudah tidak bisa menikmati kota tersebut yang  terkenal dengan kemacetannya. Sekali-kali ingin belajar dalam suasana nyaman.

 

Suatu saat saya melihat usulan pelatihan tentang Pengembangan Organisasi. Melihat topiknya saya menjadi tertarik. Terlebih lokasinya di Yogya. Wah! Sayapun ikut mendaftar juga. Awalnya atasan saya tidak setuju karena lembaga penyelenggara, Satu Nama tidak dikenal di pelatihan SDM. Sayapun juga tidak mengenalnya. Biasanya yang terkenal di pelatihan SDM adalah DDI (Daya Dimensi Indonesia), Hay Konsultan atau LPPM dll. Lalu saya cari di internet dan mendapatkan silabus pelatihan. Ada yang membuat saya tertarik, ada bahan tentang perumusan visi misi dan ada efektivitas organisasi. Topik ini membahas pendekatan dan strategi untuk meningkatkan effectivitas organisai dimulai dengan membuat assessment organisasi yang cocok. Menganalisis informasi hasil asessment dan menetapkan secara partisipatif. Juga langkah-langkah peningkatan kapasitas organisasi. Rasanya lembaga pelatihannya bergerak dalam bidang LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat).

 

Ternyata dugaan saya tak meleset. Dari 31 peserta hanya 5 dari latar belakang korporasi. Selebihnya dari kalangan LSM. Ada hal yang tak terduga, disamping peserta kebanyakan masih usia muda di bawah 30 tahunan, ada satu yang sudah berkepala 5 dan menjadikan peserta tertua. Ada juga peserta dari luar negeri yaitu Timor Leste sebanyak 6 orang. Dari Aceh ada 5 peserta. Dari Kaltim 6 peserta sekaligus mewakili Indonesia Timur karena dari Maluku dan Papua tidak ada.

 

Begitu masuk kelas hawa keakraban langsung terasa. Suasananya sama sekali jauh dari formal. Pakaian peserta terkesan seadanya, berbaju kaos oblong dan beberapa bersandal jepit. Pengajarnya juga idem ditto, bercelana jeans dan bersandal. Cara mengajarnya sangat menarik dan membuat kelas hidup. Itulah sebabnya hampir tiap hari kami pulang sekitar jam 18.00 karena saking asyiknya berdiskusi.

 

Apa yang saya dapat dari situ? Banyak hal tentang manajemen pengembangan organisasi. Pemahaman baru akan dunia aktivis sekarang, meski sewaktu mahasiswa saya juga aktif tetapi ini bertemu dengan beragam aktivis dari berbagai daerah. Kami berdiskusi, berdebat dan presentasi tentang beberapa tugas.

 

Ada kalanya instruktur atau fasilitator berusaha mencairkan suasana bila kelas mulai agak redup selepas makan siang. Ada saja idenya. Dengan mengajak beberapa peserta untuk aktif membuat ice breaking dengan suatu permainan. Atau membuat permainan  sendiri. Permainan spidol dan selotif dengan informasi berjenjang membuat tertawa. Banyak game sebagai ice breaking suasana.

 

Yang patut saya catat adalah penampilan all out sang instruktur, Mr. Mech (Metodius Kusumahadi). Dengan usia sekitar 63 tahun dengan suara dan semangat yang tak kenal lelah. Suaranya bisa meninggi atau merendah atau melucu dan membuat peserta harus tetap memperhatikan materi dan bahan diskusi. Membuat permainan melingkar dengan membuat hitungan bilangan dan kelipatan yang memaksa peserta untuk berkonsentrasi dan tergelak bila ternyata konsentrasinya buyar. Bila ada peserta mengantuk atau sibuk sendiri didekatinya dan diajak berdiskusi. Dia seperti actor dalam pertunjukan teater, actor utamanya. Atau bila kelas suasananya meredup dan ada beberapa yang berpangku tangan, ada nyanyian penumbuh semangat yang dinyanyikan bergantian antara peserta lelaki dan perempuan. I’am captain of the ship/Yes I’am, Yes I’am, Yes I’am/I’am captain of the fate/Yes I’am, Yes I’am, Yes I’am. Whatever you can do I can do/Yes I’am, Yes I’am, Yes I’am. I can do better than you/Yes I’am, Yes I’am, Yes I’am

 

Dia sudah berkeliling dunia dan mengabdikan diri pada dunia LSM lebih dari 35 tahun. Dengan entengnya bercerita tentang letak sebuah kota di Kanada atau Jerman atau Amerika. Atau bahkan di negara kecil Kepulauan Solomon. Rasanya ke luar negeri seperti ke kota tetangga. Dia juga fasih bercerita tentang letak suatu desa di Bengkulu atau Aceh atau Timor Leste. Begitu juga kalau bercerita tentang proyek sosialnya di Merauke, Papua seperti hafal di luar kepala. Mungkin mata kakinya kalau bisa bercerita akan berkata bila sudah melihat dan menginjak permukaan bumi di hampir seluruh negara di dunia. Dia juga sangat menguasai teori manajemen dan praktis operasional LSM.

 

Ada beberapa materi atau ungkapan-ungkapan lepas yang layak saya catat. Diluar catatan teknis tentang manajemen organisasi. Diantaranya adalah seperti saya tulis berikut.

 

Mr. Met mengawalinya dengan berkata, Bung Karno pernah  berkata, ada 3 syarat suatu negara : identitas (kepribadian), kemandirian ekonomi (resources), kemandirian politik. Begitu juga dengan organisasi, minimal harus ada tujuan, sumber daya dan system. Ketiganya dikelola dengan manajemen. Dalam organisasi sebaiknya no body is indispensable, tak ada yang sangat diperlukan. Jangan sampai ada orang yang tak tergantikan. Semua orang dalam organisasi tersebut dapat diganti. Setiap fungsi sebaiknya ada second line (lapis kedua).

 

Nilai-nilai perusahaan secara universal paling tidak terdiri dari 4 hal yang diambil dari bahasa Yunani.yaitu Unum (satu), Bonum (kebenaran), Verum (keadilan), Pulchrum (keindahan).

 

Pembuatan visi dan misi. Biasanya ada 3 macam model yaitu thematis, naratif atau deskriptif. Thematis biasanya dengan bahasa singkat. Gampang diingat tetapi ada yang “disembunyikan”. Naratif biasanya dengan kalimat yang panjang. Deskriptif dengan kalimat yang lebih panjang dan biasanya menjadi susah diingat. Penetapan visi ke arah end (hasil). Sedang misi ke arah means (upaya). Jangan dicampuradukkan. Nilai ke arah end. Lebih abstrak. Prinsip arahnya means. Prinsip biasanya lebih kongkrit disbanding nilai. Di sebagian dunia penulisan visi misi didahului dengan visi dan diikuti misi. Di Amerika Utara penulisan visi misi dibalik. Misi baru visi.

 

Dalam mengelola organisasi sebaiknya berpegangan pada system, bukan manusia. Dalam perjalanan waktu motivasi orang bisa berubah. No body is useless. Tonjolkan sisi positif dalam setiap kekhasannya. Organisasi sebaiknya komplet antara laki-laki dan perempuan. Untuk organisasi kemanusiaan tak perlu malu mendapat dana dari luar tetapi usaha mencari dana sendiri harus tetap dilakukan.

 

Siapa yang bertanggung jawab pada “peradaban” setempat? Jawabnya adalah pemimpin setempat. Menjaga kwalitas pemimpin dengan pastikan posisi gambar besar dari visi misi, struktur dan kultur, menjaga keunggulan dan kekhasan, memaksimalkan jaringan, menjaga mutu dan dampaknya. Cara efektif untuk membangun kader, memberi kesempatan pada setiap orang untuk bertanggung jawab.

 

Masih banyak kata-kata bernas yang layak catat. Mungkin ini bukan hal baru, tapi perlu dimaknai. Bila ingin menjadi orang yang berarti harus mempunyai disiplin. Jika tak disiplin tak akan menjadi apapun. Maka semua tergantung anda, apa mau menjadi orang berarti atau tidak. Manusia dinilai seberapa banyak dia berarti bagi sesamanya. (Sunaryo Broto)

 

Selasa, 11 November 2008

Suatu Waktu di Satu Nama




Beberapa foto kegiatan pelatihan Pengembangan Organisasi di Satu Nama, Jl. Sambi Sari No 99 Sendangadi, Mlati, Sleman, Yogyakarta tgl 13-18 Oktober 2008. Pelatihan yang menyenangkan dengan beragam peserta dari seantero negeri dan beragam kasus yang dibahas, khususnya pada organisasi LSM.